Oleh:
@027rikaajaa
“Kebebasan telah jauh merenggutku, hingga tiada lagi
jalan yang kutemukan untuk kembali. Adakah yang menemukan diriku di hutan yang
amat gelap ini?!? Aku ingin kembali!!” begitulah kalimat tertulis di secarik
note di buku Sella.
****
Sella seorang anak remaja
berusia lima belas tahun, semenjak SD orangtuanya selalu membeiarkannya dan
bebas berteman dengan siapa saja. orangtua Sella terlalu sibuk dengan karir
yang selalu mereka banggakan. Melupakan segala kewajiban mereka sebagai
orangtua. Hari-hari kesibukan terus menghampiri orangtua Sella hingga jarang
memperhatikan keseharian Sella. Kini Sella telah genap berusia enam belas
tahun. Orangtuanya tidak pernah melarang apapun yang Sella lakukan. Yang
terpenting Sella tidak mengganggu pekerjaan mereka.
Pagi itu, Sella
terbangun dan mandi. Memakai seragam sekolah bewarna putih abu-abu yang cukup
ketat. Memakai jilbab sipon transparan dan mengikatnya kebelakang. Sebelum
pergi Sella bercermin menatap pantulannya dan setelah itu ia pun langsung
bergegas tanpa berpamitan kepada orangtuanya.
Jam sekolah pun
berakhir, Sella tidak langsung pulang ke rumah. Seperti biasa, Sella menghabiskan
waktunya bersama teman laki-lakinya hingga malam. Memiliki teman yang teramat
sangat bebas. Lingkungan pun tidak terpungkiri terus mempengaruhi Sella
menjejaki segalanya. Hingga suatu ketika, teman laki-laki dan perempuan Sella
memberikan sesuatu. Sesuatu yang di kiranya hanyalah sebuah permen.
Sella yang masih
dikatakan lugu, dengan cepat menerima pemberian temannya tanpa bertanya. Pill
yang di berikan padanya musnah seketika. Sesaat Sella tertegun. Merasakan
perubahan dirinya. Ya! Ada yang berubah padanya. Dia seakan terbang melayang
bagikan seekor kupu-kupu. Bukan hanya
dirinya saja merasakan hal itu. semuanya telah melayang menikmati permen yang
mereka makan.
Waktu pun terus
berlalu, Sella semakin ketagihan mengesumsi pill yang ia sangka permen. Dan
nyatanya itu adalah narkoba. Narkoba yang terus menjeratnya ke dalam sebuah
neraka yang mengerikan. Hari-hari Sella selalu di temani oleh obat-obatan
terlarang itu. tidak terpungkiri kini ia telah berani membawanya pulang ke
rumah. Di rumah pun terasa aman baginya sebab orangtua Sella pun jarang berada
di rumah. Di tambah ia adalah anak semata Wayang.
Siang itu, tepatnya
hari Minggu. Ayah Sella mencoba memanggilnya. Awalnya Sella terlihat gugup
sebab ia mengira orangtuanya telah mengetahui perbuatannya. Di ruang tamu, Ayah
Sella menatapnya tajam. “Uang yang ayah berikan kepadamu ke mana, Sella?? Apa
yang kamu belikan??” Tanya Ayahnya yang mulai terlihat curiga. Ya, semenjak
Sella mengesumsi obat-obatan itu tidak terjumlah Sella meminta uang setiap
harinya. Raut wajah Sella mulai ketakutan. “Aku membelikannya perlengkapan
sekolah, Ayah.” Ucap sella seraya menyembunyikan kepanikannya. Sella pun mulai
berbohong kepada orangtuanya. “Benarkah?? Kamu tidak berbohong kepada Ayah,
bukan?!?” “Tidak, Ayah!” begitulah pembicaraan mereka di ruang tamu.
Hari-hari terus berlalu,
kini Sella tidak hanya mengasumsi obat-obatan itu saja. bahkan anak seusianya
telah mencoba melakukan hal-hal yang tidak semestinya ia lakukan. Kini Sella
telah mencoba melakukannya dengan temannya. Setiap hari, terus begitu.
Teman Sella mendekatinya dan berkata, “mau
mencoba yang satu ini, Sel?? Ini lebih nikmat dari biasanya.” Tunjuknya pada
sebuah suntikan di tangan laki-laki itu. sesaat Sella merasa ragu. Tapi Sella
terus terpengaruh dan ia pun mengangguk. Laki-laki di sebelahnya pun terus
menyuntikkannya di tubuh Sella.
Sella pun bukan main
lagi. Terus meliuk menikmati sensai obat-obatan terlarang itu dan berakhir
melakukan hal haram yang di luar kendali Sella. Begitu lah selalu. Sella terus
terjerumus dalam kebebasan itu. orangtuanya pun tidak ambil pusing mengapa
Sella sering tidak terlihat. sering pulang malam dengan alasan belajar. Ya, mereka
sering beranggapan Sella belajar di rumah teman. Sebab dulu Sella adalah anak
yang rajin. Anak yang penurut. Anak yang tidak pernah berbohong. Namun, mereka
salah. Kini Sella telah jauh dari kata itu. telah jauh bahkan untuk kembali
seperti semula cukup sulit.
Di meja makan, Sella
menatap wajah orangtuanya sendu. Ia menangis. Sella menitihkan air mata.
Tetesan itu kini berubah menjadi isakan-isakan kecil. orangtua Sella tertegun,
kenapa anak mereka menangis. “Ada apa, Sella? Apakah ada masalah di sekolah?”
Tanya ibu Sella penasaran. Sella menggeleng. “Terus apa? Apakah uang jajan yang
ayah berikan kurang?” Tanya Ayah Sella. Sella kembali menggeleng. “Terus kenapa
kamu menangis?” kemabli Sella menggeleng.
Orangtuanya hanya diam.
Dan berlalu ketika deringan ponsel berbunyi. Keduanya kembali sibuk dengan
pekerjaan dan mengabaikan Sella seorang diri di maja makan. Sella menangis
menjadi-jadi. Ia menangis sebab telah terlalu jauh dirinya pergi. Sella
berjalan dengan langkah gontai menuju kamarnya. Tiba di kamar, secarik note
kembali diisi Sella dengan kalimat-kalimat minta tolongnya.
Ibu, Ayah tolong
kembalikan aku!! aku telah pergi terlalu jauh, Ayah. Sella takut tidak akan
kembali lagi, Ibu. Begitulah kalimat yang tertulis di kertas itu. Tubuh Sella
tiba-tiba membutuhkan sesuatu. Tubuh Sella menginginkan sesuatu. Sella merasa
tubuhnya lemah. Ia merasakan tubuhnya kesakitan tanpa mengesumsi obat-obatan
itu. dan akhirnya Sella membuka tasnya. Nampaklah sebuah suntikan dan terus
menyuntikkannya di tubuhnya. Lagi dan lagi Sella kembali mengesumsi obat-obatan
terlarang itu. dan akhirnya Sella kecanduan akan hal itu. tanpa menggunakannya
tubuhnya terasa sakit. tubuhnya merasa lemah. Otaknya tidak dapat berpikir
jernih. Begitulah dampak pill itu terhadap Sella.
Sore itu, Sella
berusaha tidak mengesumsi obat-obatan itu. ia ingin dapat berpikir jernih.
Namun keinginannya tidak dapat ia turuti. Tubuhnya telah menguasai segala
pikirannya. Tubuhnya telah menguasai segala dirinya. Hingga untuk berpikir
jernih susah sekali ia lakukan. Semua karena obat-obatan itu. pill terlarang
itu telah merusak saraf-saraf otaknya.
Dengan kesadaran yang
sedikit ia miliki, Sella berjalan gontai menuju taman di halama rumahnya.
Tangannya dengan terus gemetar mencoba menuliskan sesuatu di bukunya.
“Hari ini, ke dua
kakiku mulai goyah…Telah terlalu lama berjalan di jalan penuh berliku..
Terkadang diriku tersesat di semak-semak belukar.. Dan terkadang lagi, tersesat
di hutan yang amat gelap.. Bukan sebentar dan bukan sesaat,, Tetapi
berkali-kali.. Hingga tiada kumenemukan jalan untuk kembali.. Pernah aku
bertiak.. Berteriak berharap seseorang menemukanku.. Lama pun menunggu.. Waktu
pun berlalu.. Tak seorang pun menemukanku.. Semakin lama.. Kegelapan pun mulai menyelimuti mataku..
Hingga tiada lagi cahaya yang terlihat.. Segalanya kulalui dengan mata
tertutup.. Menjalani hal-hal yang tak semestinya aku lakukan.. Apalah dayaku,, Ketika
diriku semakin tersesat dalam hutan yang amat gelap.. Ingin pun kembali tiada
jalan yang kutemukan..
Entah sampai kapan
hidup dalam kegelapan.. Bernafas pun mulai terasa sesak.. Menangis pun air mata
tak kunjung mengalir.. Begitu keras sampai terlupa cara menangis.. Entahlah..
Adakah mereka yang menemukan diriku di hutan ini.. Hutan penuh dengan tipu
muslihat.. Hutan penuh tipu daya.. Hutan yang entah kapan kembali bersinar
terang. Entahlah.. Akupun tak tahu apa
jawabannya.. Hanya dapat menunggu, pabila dia datang.. Datang.. Membawaku
kembali dari hutan mengerikan ini.. Aku ingin kembali!!” begitulah tulisan panjang
yang memiliki makna dalam dari seorang remaja seusia Sella yang terus mengatakan
ingin kembali.
Dengan sekuat tenaga
Sella terus berusaha menuliskan kalimat demi kalimat yang mengatakan betapa ia
telah terlalu jauh berjalan dalam hutan yang gelap. Sangat gelap hingga tiada
jalan baginya. Kini Sella terus menunggu dapatkah ia kembali seperti dulu
lagi?!? Semua hanya menjadi tanda tanya besar bagi Sella. Sebeb sangat kecil
harapan dirinya untuk kembali.
Waktu terus berlalu,
orangtua Sella mulai merasakan perubahan Sella. Ya, perubahan Sella semakin
terlihat. Sella jarang bertemu orangtuanya. Jarang mengatakan kebutuhannya.
Jarang menatap orangtuanya. Sella sekan mulai terasa jauh bagi mereka. dan
sekali ini, orangtua Sella memutuskan tidak bekerja sebab ingin berada di sisi
Sella yang sangat mereka rindukan beberapa hari ini.
Ketukan pintu terdengar
di telinga Sella. Namun ia tidak membukanya. Sebab Sella sangat takut dengan
perubahan dirinya beberapa bulan ini. tubuh Sella mulai gemetar. Ketakutan
mulai menghampirinya. Sebelum orangtua Sella kembali mengetuk pintu, seseorang
datang ingin menemui mereka. Dari sekolah Sella kata pembantu rumah itu. Karena
penasarn keduanya pun turun menemui guru dari Sella.
Di ruang tamu,
terjadilah percakapan yang membuat tubuh orangtua Sella menjadi gemetar.
Orangtua Sella terlihat kecewa. Orangtua Sella terlihat terluka. Amarah pun
mulai menguasai diri dari orangtua Sella. Kenapa tidak! ternyata beberapa bulan
Sella tidak pernah pergi ke sekolah. Dan mereka tidak pernah menyadarinya sebab
Sella selalu memakai seragam setiap paginya dan mengatakan akan pergi ke
sekolah. Dan ternyata, anak mereka Sella tidak pergi ke sekolah. Hingga gurunya
datang memberikan surat pengeluaran dari sekolah buat Sella Rahima Kumala.
Ibu Sella hampir
pingsan. Kenapa Sella tidak ingin ke sekolah. kenapa anak semata wayang mereka
seperti itu. begitu banyak hal yang ingin mereka tanyakan kepada Sella. Ayah
Sella pun terus tergesa-gesa mengampiri Kamar Sella. Dan pintu telah terbuka
tanpa Sella sadari. Ibu Sella berubah tidak sadarkan diri tatkala kedua mata
ibunya terpaku melihat tubuh anaknya yang masih berumur Enam belas tahun itu telah
membesar. Tubuh Sella telah berbadan dua. Sella telah mengandung beberapa bulan
ini hingga tidak ingin pergi ke sekolah. malu jika dilihat oleh teman-temannya.
Sang Ayah pun tak kuasa
menahan amarah yang kian membuncah. Sang ayah pun melayangkan tamparan yang
cukup keras di Wajah Sella. Sella tertegun mendapati tamparan itu. tidak pernah
dan tidak sedikit pun Ayahnya memukulnya. Bahkan dirinya selalu di manjakan
dengan harta. “Anak kurang ajar kamu, Sella!” Tukas Sang Ayah kepada Sella.
Seribu sumpah serapah terus mengalir buat Sella. Sella pun tak kuasa menahan
air matanya. Ia menangis ketakutan. Ia bersimpuh memohon ampun kepada sang
ayah. Di tambah Sella menayksikan sang ibu pingsan di hadapannya sendiri.
Saat Ibunya Sella telah sadar dari sekian jam. Pekerja
rumah itu pun ikut mersakan kesedihan melihat rumah majikannya. Sella masih
bersimpuh penuh berlinang air mata. “Janin itu harus digugurkan!” ucap Ayah
Sella masih dalam keadaan marah. “Tidak Ayah. Aku takut! Aku takut ayah!” Sella
terus menolak untuk menggugurkan janin dalam perutnya. Sang ibu pun menimpali,
“Apa katamu, Sella?? Kamu masih kecil? tidak tahu mengurus anak. Bahkan
mengurus dirimu saja tidak tahu kamu lakukan. Ibu setuju janin itu digugurkan,
dan cara bagaimana pun harus digugurkan!” ucap Ibunnya Sella mengiyakan perkataan
suaminya.
Mendengar ucapan
ibunya, Sella semakin menangis sejadi-jadinya. Sella di seret menuju Mobil.
Sella terlihat meronta-ronta tidak ingin pergi. Berteriak memohon ampun supaya
tidak menggugurkan janin dalam perutnya. “Ayah, jangan.. aku mohon!! Sella
takut Ayah.. Sella takut.” Sepanjang jalan Sella terus mengalunkan kalimat itu
kepada orangtuanya. Ia takut seperti temannya waktu itu. karena menggugurkan
janinnya, ia tidak terbangun lagi. Sella takut akan seperti temannya itu.
Tiba di sebuah tempat
aborsi. Ibunya Sella mencoba membuka pintu buat Sella agar segera turun. Lama
Sella tidak ingin turun. Dia takut masuk ke dalam rumah itu. dia takut.
Sampai-sampai tubuhnya gemetar karena ketakutan. Sang ayah yang cukup keras,
dengan paksa menyeret Sella ke dalam tempat itu. “Ayah, Sella mohon ampun… jangan
bawa Sella ke sini.. Sella takut Ayah, Ibu..” Sella terus meraung-raung ingin
pergi dari tempat itu. lelah menangis Sella pun sadar. Bagaimana pun ia
menolak. Orangtuanya tidak mungkin mendengarkan keinginnanya untuk tidak
menggugurkan janin dalam perutnya yang sudah cukup besar itu.
Sella terduduk menunggu
namanya di panggil. Orangtuanya terus menatapnya murka. Sella semakin takut
ketika mendengar suara yang amat keras dari dalam. Suara itu penuh rasa
kesakitan. Sella pun semakin tak kuasa untuk tidak menangis. Matanya telah
bengkak akibat menangis sepanjang malam. Beberapa bulan yang lalu Sella memang
tidak lagi mengesumsi obat-obatan itu. sebab ia mendegar janin dalam perutnya
akan kesakitan jika terus mengunakan pill terlarang itu. dengan pikiran yang
masih awam akan hal itu, ia pun sangat percaya dan takut jika janinnya terluka.
Sibuk dengan
pikirannya, kini giliran Sella yang di panggil. Jantungnya berdegup sangat
cepat. Tubuhnya merasa lemas. Berkali-kali ia menoleh berharap orangtuanya
membawanya kembali pulang. Harapan tinggallah harapan. Orangtua Sella
bersikeras untuk tetap mengguurkan janin dalam perut Sella. Setelah Sella
diperiksa, orang yang memeriksa tubuh Sella pun memanggil orangtuanya Sella ke dalam.
“Maaf bapak, ibuk.. kandungan anak bapak tidak
dapat kami gugurkan. Sebab janinnya telah teramat besar untuk di gugurkan.”
Jelas orang itu kepada orangtua Sella. “Tidak! bagaimana pun janin itu harus
digugurkan. Dia masih kecil, dan tidak mungkin membesarkan bayinya.” Jelas
ibunya Sella masih bersikeras menggugurkan janin Sella.
“Tapi..” perkataan
orang tersebut terputus sebab Ayah Sella tetap ingin menggugurkan janin dalam
perut Sella. Akhirnya, pengaborisan pun dilakukan oleh orang tersebut. Aborsi
yang mempertaruhkan nyawa Sella. Sebelum
pengaborsian, Sella meminta sedikit waktu sebelum janinnya di gugurkan. Dengan
sepenuh hati, diizinkan oleh orang itu.
Sella membuka
ponselnya. Dan ia mulai membuka akun facebooknya. Jari-jemarinya dengan pelan
menuliskan kalimat demi kalimat tentang perasaannya.
“Wahai sahabatku.. aku
Sella anak remaja yang penuh kebebasan dari orangtuaku. Dari kebebasan itu, aku
berlari sejauh mungkin hingga aku terjerumus terlalu dalam. Sebab kelalaian
orangtuaku, aku pun mulai mengabil kesempatan, dan pada akhirnya segalanya
telah aku lakukan. Hingga aku membuat satu perbuatan dan membuatku.. ah cukup akulah
yang tahu. kini aku menyesali atas segala perbuatan itu. tapi bagaimanapun aku
tidak dapat lagi kembali sebab orangtuaku memaksaku terus pergi. Memaksaku
terus pergi jauh. Dan tibalah saatnya.. mungkin inilah akhir dari perjalananku.
Dan selamanya aku berada di tempat yang amat gelap itu hingga mataku terpejam.
Dengarlah wahai sahabatku, jangan pernah menjadi seperti diriku. jika kalian
sayang dengan dirimu, maka janganlah seperti diriku. sebab kebebasan, sebab
obat-obatan, sebab kelalaianku, aku pun terjerumus dilubang penuh kenistaan di
usiaku yang masih sekecil biji ini.
Itulah, status terakhir
dari Facebook Sella Rahima Kumala. Dan setelah itu, Sella pun melakukan aborsi
sehingga dirinya tidak dapat lagi melihat dunia. Sella meninggal dunia saat
pengguguran janinnya. Kini Sella telah tiada di dunia ini. anak remaja berusia
enam belas tahun berakhir di ruangan itu. orangtua Sella yang mendapat kabar
anaknya telah tiada pun tidak kuasa. Mereka menangisi Sella yang telah tertutup
kain putih. Tubunya penuh bersimbah darah. Bahkan bibir Sella terlihat berdarah
akibat menahan sakit yang teramat menyakitkan. Tida sanggup bagi seorang anak
seusia dia merasakan hal seperti itu.
Bahkan sebelum Sella memejamkan
mata buat selamanya, hatinya sempat berkata, “Siapa pun mereka, semoga tidak
pernah merasakan hal seperti diriku. cukup aku yang merasakan hal seperti ini
hingga merenggut satu nayawa yang kumiliki. Jangan pernah wahai wahabatku..
sungguh sangat teramat sangat menyakitkan.” Itulah ungkapan terakhir dari Sella
Rahima Kumala.
Orangtua Sella sangat
menyesal sebab telah lalai menjaga anak semata wayangnya. Andai mereka tidak di
sibukkan dengan pekerjaan, kejadian ini tidak mungkin menimpa Sella anak mereka.
andai mereka selalu memberi perhatian kepada Sella, tidak mungkin anak mereka
melakukan perbuatan yang merusak dirinya sendiri. Kata Seandainya terus terlontar begitu saja dari bibir orangtuanya Sella.
Tapi semua telah terjadi. Dan pada akhirnya, Sella tidak pernah dapat kembali.
Sella tetap pergi jauh tapa seorangpun membawanya kembali. Begitulah kisah dari
seorang Sella Rahima Kumala yang meninggal dalam keadaan terus mengatakan Aku Ingin Kembali! Dan pada akhirnya ia
terus pergi jauh di tempat yang amat gelap yang mencekam.
Semoga tiada lagi
orangtua seprti orangtuanya Sella yang selalu disibukkan dengan pekerjaan.
Semoga tiada lagi orangtua seperti orangtuanya Sella yang melupakan tuganya
sebagai orangtua. Dan semoga tiada lagi anak seperti Sella Rahima Kumala yang
terlalu jauh dari jalan yang benar. Semoga tiada lagi orang seperti Sella
Rahima Kumala yang tidak dapat kembali lagi. Semoga tidak ada lagi seperti
mereka, Insya Allah.. [rw]

Tidak ada komentar:
Posting Komentar