Senin, 15 Mei 2017

BUAH DARI KESABARAN






Oleh: @027rikaajaa
“Aku percaya jodoh itu ada, sebab aku percaya Allah itu ada. Aku percaya jodohku ada, sebab aku percaya Tuhan itu ada.” Begitulah untaian kata-kata yang terus mengalir dari bibir Siti Aminah.
***

Namanya Siti Aminah, biasanya kerap di panggil Siti. Perempuan yang telah berusia hampir genap berkepala empat itu. kini Allah sedang menguji kesabaran dan keimanannya. Sampai saat ini, di usianya yang semakin tua, Siti belum jua menemukan pasangan hidupnya. Siti belum menemukan jodohnya. Para tetangga pun terus berbisik-bisik, “Betapa sayangnya si Siti itu sampai sekarang belum menikah juga. Sudah lama menjadi perawan tua.” Begitulah selalu gunjingan para tetangga kepadanya. 

Namun, Siti terus berusaha untuk tetap bersabar. Ia tahu, Allah sedang mengujinya. Hari-hari pun terus berlalu, kini bukan hanya para tetangga yang membicarakannya. Saudara serta keluarganya pun semakin mendesak Siti untuk menikah dengan seseorang. Orangtuanya terus mendesak Siti untuk menikah dengan piliha ibunya. Siti yang sangat penurut terhadap orangtuanya pun hanya diam saja. ikhlas dengan keadaan.

Tiba saatnya, seseorang pria datang menemuinya di rumah itu. betapa teramat sangat bahagia orangtuanya Siti, mereka berharap pria itu ingin menikahi anaknya . orangtua Siti merasa sangat malu selalu mendengar kasak-kusuk tentang putrinya yang tak kunjung menikah. Siti yang memakai baju biasa dan kerudung panjang sepinggangnya pun duduk di sisi kedua orangtuanya. Sedari tadi pandangan pria itu terus menatapnya. Entah tatapan mencemooh, Siti pun tidak mengetahui hal itu.
“Maaf  bapak, buk.. saya tidak dapat menikahi putri bapak. Putri bapak sudah terlalu tua buat saya. saya masih terlalu muda memiliki istri seperti dirinya.” Begitulah kalimat menusuk yang tertuju kepada Siti. Siti yang mendengarnya pun hanya diam terus mencoba bersabar. Pria itu pun pergi meninggalkan mereka dalam keadaan sedih. 

“Kenapa kamu begitu sial, Siti?? Ibu sangat malu..” Ucap Ibunya Siti berlinang air mata. Siti hanya dapat menunduk berusaha menahan air matanya yang terus ingin mengalir. Bapak Siti, hanya dapat menghembuskan nafasnya, dan berlalu meninggalkan Siti seorang diri dalam keadaan diam. 

Kini, bisik-bisik tetangga semakin menjadi-jadi. Di tambah beberapa pria yang terus kembali dan tidak ingin melamar Siti sebeb mengatakan Siti perempuan tua. Orang-orang terus semakin bergunjing dan tidak pernah tahu akan perasaan Siti yang teramat sangat terluka dengan kalimat-kalimat mereka. Siti terus berdoa semoga Allah memberikan jodoh kepadanya. Siti tetap istiqomah dan terus berikhtiar kepada Allah. Setiap malam, setiap sepertiga malam Siti terus terbangun dan memohon kepada Allah semoga dirinya di berikan jodoh yang terbaik kepadanya. 

“Ya Tuhan.. aku percaya sebab engkau telah berkata setiap manusia pasti memeiliki jodoh. Dan aku sangat percaya sebab engkau tidak mungkin berdusta. Hanya saja, engkau masih menunggu memberikannya kepadaku. Aku tahu, sebab Engkau masih ingin melihat kesabaran dan keimananku. Tidak mengapa Ya Tuhanku.. tidak mengapa selagi Engkau selalu di sisiku. Tidak mengapa selagi Engkau masih menyayangiku. Satu pintaku, berilah kesabaran untukku agar tetap Itiqomah di hadapanmu.” Begitulah seruan Siti dalam doa sholat malamnya. 

Dalam perkumpulan keluarga besar Siti, semua orang menyebut namanya. kalimat demi kalimat terus tertuju kepada Siti. Kini, Siti tidak hanya dibicarakan di masyarakat, tetapi dalam keluarga besarnya pun terus membicarakan tentang dirinya. Siti yang saat itu sedang duduk di sisi mereka, memutuskan pergi menjauh berusaha tetap menerima dan terus tersenyum. 

Di dapur, ia berusaha masih tersenyum. Setiap kali hatinya terluka, ia selalu mengingat kebesaran Allah. Bibirnya terus berzikir kepada sang pencipta dikala orang terus membicarakannya. Namun, Siti hanya seorang wanita biasa, kapan pun ia dapat menangis sebab teramat terluka dengan omongan tajam kepadanya. 

Waktu terus berlalu, kini Usia Siti telah genap Empat Puluh tahun. Ia telah lelah dengan bisik-bisik tetangga terhadapnya, mulai lelah mendengar desakan orangtuanya yang terus memaksa Siti untuk menikah. Tapi, dengan siapa dia menikah. Tiada seorang pun pria yang ingin menikahi dirinya.  Hingga di suatu ketika, tepatnya malam Jumat, tatkala Siti terus mengalunkan Surat Al-Kahf di malam penuh berkah itu. hingga suara ketukan terdengan dari luar pintu rumahnya.

Ibunya yang saat itu tidak jauh dari ruang tamu pun membukakan pintu itu. Hingga terlihatlah seorang pria yang datang menghampiri rumahnya dengan maksud bersilaturahmi. Lama Ibu Siti tertegun melihat pria yang teramat tampan dan gagah nan tinggi berdiri tegap di depan rumahnya. Orangtuanya pun mempersilahkannya masuk. 

“Siti, buatkan minuman…” Suruh ibu Siti tatkala Siti telah menyelesaikan Surah Al-Kahf-nya. Ayah Siti yang baru datang dari Surau pun ikut duduk bersama Ibunya Siti. Di hati mereka tidak sedikitpun terbesit maksud kedatangan pria itu di malam seperti ini. sebab, orangtuanya Siti telah pasrah dengan keadaan. Tidak berharap apa pun lagi untuk putrinya. 

Siti yang datang dengan membawa secangkir kopi pun menghidangkannya ke pada pria itu. pandangannya terus menunduk, tanpa ingin menoleh siapa tamu yang datang. Siti masih menjaga pandangannya. Setelah ia menghidangkan minuman itu, ia pun kembali masuk dan bersandar di balik tirai pembatas antara ruang tamu dengan dapur. 

Sesaat Siti mencoba mendengarkan pembicaraan orangtuanya di ruamg tamu. Dan seketika tubuh siti terus bergetar tatkala kata lamaran mengalir dari bibir Pria yang datang ke rumahnya. Siti tak kuasa untuk tidak menangis. Tubuhnya pun ikut luruh sebab tidak percaya akan hal ini kepadanya. Siti sujud Syukur sebab Allah telah mengabulkan doa-doanya selama ini. Allah telah menunjukkan kebesarannya. Siti percaya bahwa Allah selalu berada disetiap hambanya yang sabar. Siti terus menangis berharap semua ini bukanlah sebuah mimpi. Orangtua Siti pun memanggil namanya ke ruang tamu. Siti yang masih menitihkan air mata pun dengan cepat mengusap air matanya. Tiba di ruang tamu, jantung Siti terus berdebar, ia takut dengan sekejab hati pria itu berubah kepadanya. Ia takut pria itu menarik kembali kata-katanya.

Siti duduk di anatara kedua orangtuannya. Sekilas pria itu memandangnya lalu kembali membuang pandangannya kepada orangtua Siti. “Saya akan menikahi anak bapak.” Begitulah kalimat yang mengalir dari pria itu. Siti yang mendengarnya pun kembali bersujud syukur kepada Allah. Ternyata pria itu ingin menikahi dirinya. Ternyata pria yang gagah tegap itu ingin menjadikannya sebagai istri. Ternyata pria itu ingin menjadikannya sebagai pendamping hidupnya , perempuan tua yang sering di gunjing orang. Orangtua Siti pun tak kuasa terus menangis. Mereka menitihkan air mata bahagia, akhirnya putrinya yang sering menjadi omongan akhirnya menikah. Menikah dengan pria yang amat tampan. Menikah dengan pria yang sangat darmawan. Menikah dengan pria yang sangat kaya. Menikah dengan pria yang memiliki hati yang mulia.

Tibalah hari pernikahan Siti dengan Ahmad, pria yang saat itu datang mempersuntingnya. kini mereka telah bersanding bagai putri-raja. Kini, mulut-mulut yang terus terbuka mengeluarkan kalimat-kalimat tak sedap, akhirnya tertutup rapat. Orang-orang yang sering kali bergunjing di belakang Siti akhirnya terkunci dan bungkam saat menyaksikan pernikahan Siti yang sering kali mereka sebut perawan tua.

Mereka tidak mengerti bahwa Allah dengan mudah menunjukkan segalanya. Mereka terlupa bahwa masih ada Allah yang dapat melakukan segalamya. Mereka lupa, Bahwa Allah-lah yang memiliki dunia ini. mereka melupakan dan terus menikmati perbuatan mereka yang sangat tidak baik.

Kini, usia pernikahan Siti dengan Ahmad telah genap Dua tahun. Namun mereka pun belum kunjung dikaruniai seorang bayi. Ujian di keluarganya masih terus di uji oleh Allah. Sampai saat ini, mereka belum mendapatkan anak. Siti belum jua hamil. Setiap kali ia memeriksakan kondisinya ke dokter selalu mengatakan tidak ada. Keluarga itu terus berusaha dan berdoa agar Allah memberikan kehadiran seorang  anak di usianya yang semakin Senja. Mungkin, di mata manusia sangat mustahil di usia mereka yang hampir senja dapat memiliki anak. Anak yang menjadi pelengkap dalam sebuah keluarga. Tanpa seorang kehadiran buah hati, kehidupan ruamah tangga terasa tidak lengkap. Begitulah perasaan yang di rasakan pasangan suami-istri itu. 

Waktu terus berlalu, bibir-bibir yang dulunya telah terkunci rapat, kini kembali terbuka. Mengalirlah kembali kata demi kata yang menusuk bagi keluarga itu. mengalunlah kembali kalimat demi kalimat yang sangat menaykitkan bagi pasangan itu. orang-orang tersebut belum jua tersadar. Selalu mereka membicarakan hal-hal yang tidak semestinya mereka bicarakan. Sungguh bibir itu belum jua bungkam dan belum sadar atas kebesaran Tuhan Yang Maha Esa.

Saat itu, bertepatan hari libur. Siti bersama suaminya berkeunjung ke ruamh orangtuanya yang telah sebulan ini tidak mereka kunjungi. Setiba di rumah, mereka menyalami kedua orangtuanya dan terus memancarkan aura kebahagiaan. walau belum dikaruniai seorang buah hati. tapi, Siti bersama suaminya terus tetap bersyukur. Sebab mereka paham betul, Allah itu ada dan pasti mengabulkan doa-doa mereka. hanya saja, belum saatnya Allah mengulurkannya. Beberapa hari menginap di rumah orangtunya, akhirnya mereka memutuskan kembali sebab Ahmad suaminya memiliki pekerjaan yang harus ia jalankan. 

Seperti biasa, saat suaminya pergi bekerja, Siti terus tetap istiqomah dan berdoa kepada Allah semoga doa-doanya dijamah oleh Allah Subahanallahu ta’ala. Dan Siti pun berencana memeriksakan keadaanya  ke dokter berharap berita bahagia yang ia terima. Namun, kembali kata tidak yang dia dengar dari dokter tersebut. Hanya air mata saja yang terus mengalir dari mata Siti. Ia telah Ikhlas dengan keadaan. Bagaimana pun, jika Allah belum memberikannya mau menginginkan sebesar apapun jua tetap tidak ada. 

Semenjak itu, Siti tidak lagi pergi memeriksakan kandungannya. Sebab ia tahu kata dokter itu hanya tidak. suaminya pun telah Ikhlas dengan keadaan. Walau Allah belum mengizinkan mereka menjadi orangtua, namun setiap sepertiga malam pasangan itu selalu terbangun dan bersujud memohon kepada Allah semoga masih diberikan kesempatan itu kepada mereka. 

Hari-hari pun kembali tarsus berlalu, kini Siti tidak bersedih lagi. Ia memutuskan mengadopsi seorang anak dari pantai asuhan. Kesehariannya terus mengurus suami dan anak angkatnya yang bernama Sarah. Sering kali juga mereka mengunjungi panti asuhan tempat Sarah dibesarkan dan tidak sedikit pasangan itu memberikan sumbangan untuk anak-anak yatim piatu di panti itu.  Ahmad pun mulai merasa bahagia sebab rumah mereka mulai terdengar tawa istri dan anak angkatnya itu. keluarga mereka pun terasa sudah lengkap walau Sarah anak kecil itu bukan anak kandung dari hubungan mereka.

Suatu ketika, Siti merasakan perubahan pada dirinya. Kepalanya sering pusing. Sesekali pandangannya berkunang-kunang. Siti teramat takut penyakit apa yang menderanya. Seringkali rasa sakitnya ia sembunyikan dari suaminya. Ia takut Ahmad kahawatir dengan keadaannya. Sarah yang selalu menemaninya pun mulai jarang berada di sisinya, sebab Sarah telah beranjak berumur tujuh tahun. Sarah pun jika di pagi hari serta siang berada di sekolah. 

Kepala Siti semakin menjadi teramat sangat sakit. perutnya terasa sakit dan sesekali mual mendera dirinya. Ia pun memutuskan pergi ke rumah sakit yang telah lama tidak ia injak. Tanpa minta izin dari suaminya, ia pun pergi. Setelah pemeriksaan dilalukan oleh dokter kepadanya. Lama dokter  itu tertegun. Lama dokter itu terdiam. Siti pun yang melihat perubahan di wajah dokter itu pun mulai menerka-nerka penyakit apa yang telah menghinggapinya. 

“Apakah saya sakit parah, dokter??” tanya Siti takut-takut mendapat kabar yang membuat hatinya terluka. Dokter yang ia tanya pun tak kunjung menjawab. Dokter itu malah menitihkan air mata. Siti pun dihampiri katakutan yang amat parah. Tentulah ia mengatakan bahwa dirinya mengidap penyakit yang sulit disembuhkan. Begitulah isi pikiran Siti saat itu.

“Berapa usianya, Ibuk??” tanya dokter itu pelan. Siti yang sudah curiga pun menjawabnya pelan, “Empat puluh tiga tahun, dokter.” Dokter itu pun semakin terpaku seraya menggelengkan kepalanya. “Selamat Ibuk, akhirnya keinginan terbesar ibu telah dikabulkan oleh Allah. Usia kandungan Ibuk telah genap dua bulan.” Jelas dokter itu terus tersenyum sambil menitihkan air mata. 

Siti yang mendengarnya pun tertegun. Bagaikan mimpi ucapan dokter itu kepadanya. Siti pun tak kuasa menangis sejadi-jadinya. Ia menangis ternyata Allah masih memeberikan kesempatan baginya menajdi seorang ibu. Allah masih memberikan kesempatan kepadanya menajdi seorang istri sempurna buat suaminya. Ternyata Allah masih memberikan kesempatan baginya merasakan seorang perempuan yang sempurna. 

Saat tiba di rumah pun air matanya terus menaglir. Sang suami yang mendapatinya di ruang tamu pun mulai khawatir. Telah lama usia pernikahan mereka, tidak pernah ia melihat istrinya menangsi seperti saat ini. dengan perasaan khawatir, ia pun memeluk istrinya dengan penuh kasih sayang. Siti pun kembali tak kausa untuk terus menangis. Hingga Siti menceritakan segalanya tentang kondisinya yang telah menagndung dua bulan. Sang suami pun tak jua kuasa untuk tidak menangis. Pasangan itu bersujud  syukur dan terus bersyukur tenyata semua doa-doa mereka telah di dengar oleh Tuhan Yang  Maha Esa. 

Orangtua Siti pun bergitu teramat bahagia mendengar kabar bahagia dari putrinya Siti Aminah. Sungguh orangtua Siti sangat bahagia atas segala nikmat Allah yang telah ia berikan seindah itu kepada putrinya. Kini, bibir-bibir yang sering bergunjing, akhirnya kembali tertutup rapat. Mereka akhirnya sadar, bahwa Allah itu maha besar. Orang-orang yang sering meneybut nama Siti Aminah itu akhirnya menitihkan air mata sebab terlalu merendahkan dirinya. Mereka melupakan jika Allah memiliki segalanya yang dengan mudah dapat melakukan apapun yang di luar batas pemikiran hambanya. 

Maka sudah jelas, Sesungguhnya urusan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu dan berkata “Jadilah” Maka terjadilah ia. Subahanallah.. Maha Suci Allah atas segala kebesarannya. Sebuah pasangan suami-istri yang telah melewati banyak rintangan, ternyata inilah buah dari kesabaran mereka selama ini. Ternyata Allah menunjukkan kebesarannya melewati pasangan yang selalu tawaqal dan tetap bersabar menjalani ujian yang Allah berikan. Mata yang awalnya terus tertutup dan mengabaikan segala kekuasaan Allah yang meliputi langit dan buminya akhirnya terbuka lebar dari pasangan itu.

Kini, Siti Aminah yang disebut perawan tua. Yang disebut seorang istri yang tidak sempurna. Akhirnya telah menunjukkan betapa ia sempurna. Allah memberikan sedikit kesempurnaan itu kepada dirinya hingga ia dapat menajdi seorang istri sekaligus seorang ibu. Kini. Pasangan itu telah dikaruniai anak kembar yang sangat cantik dan tampan. Siti melahirkan anak kembar dari hubungan halalnya bersama seorang suami yang selalu senantiasa terus bersamanya. Seorang suami yang menerima segala kekurangan pada dirinya. Seorang suami yang membuatnya menajdi seorang wanita sempurna. 

Itulah kisah dari wanita yang kerap disebut perempua Tua. Sebuah kisah yang mengharukan yang kerap dipanggil perawan tua. Akhirnya Allah menjadikannya wanita sempurna. Kisah  wanita yang selalu sabar dan pada akhirnya memetik buah dari kesabaran yang telah lama ia semai. kisah yang begitu banyak hikmah yang dapat dipetik di dalamnya. Siapa pun diantara kalian yang memiliki kisah seperti Siti, sungguh beruntung dikau sebab Allah teramat sangat sayang kepadamu. Tetaplah bersyukur dan istiqomah sebab tuhan itu ada. Kita ada sebab dia pun ada. Kita dapat melihat dunia yang indah sebab Dia pun ada. Maka tetaplah bersabar, Insya Allah, Allah senantiasa selalu bersama kita. Insya Allah..  [rkw]

AKU INGIN KEMBALI!!




Oleh: @027rikaajaa

“Kebebasan telah jauh merenggutku, hingga tiada lagi jalan yang kutemukan untuk kembali. Adakah yang menemukan diriku di hutan yang amat gelap ini?!? Aku ingin kembali!!” begitulah kalimat tertulis di secarik note di buku Sella.
****

Sella seorang anak remaja berusia lima belas tahun, semenjak SD orangtuanya selalu membeiarkannya dan bebas berteman dengan siapa saja. orangtua Sella terlalu sibuk dengan karir yang selalu mereka banggakan. Melupakan segala kewajiban mereka sebagai orangtua. Hari-hari kesibukan terus menghampiri orangtua Sella hingga jarang memperhatikan keseharian Sella. Kini Sella telah genap berusia enam belas tahun. Orangtuanya tidak pernah melarang apapun yang Sella lakukan. Yang terpenting Sella tidak mengganggu pekerjaan mereka. 

Pagi itu, Sella terbangun dan mandi. Memakai seragam sekolah bewarna putih abu-abu yang cukup ketat. Memakai jilbab sipon transparan dan mengikatnya kebelakang. Sebelum pergi Sella bercermin menatap pantulannya dan setelah itu ia pun langsung bergegas tanpa berpamitan kepada orangtuanya.
Jam sekolah pun berakhir, Sella tidak langsung pulang ke rumah. Seperti biasa, Sella menghabiskan waktunya bersama teman laki-lakinya hingga malam. Memiliki teman yang teramat sangat bebas. Lingkungan pun tidak terpungkiri terus mempengaruhi Sella menjejaki segalanya. Hingga suatu ketika, teman laki-laki dan perempuan Sella memberikan sesuatu. Sesuatu yang di kiranya hanyalah sebuah permen. 

Sella yang masih dikatakan lugu, dengan cepat menerima pemberian temannya tanpa bertanya. Pill yang di berikan padanya musnah seketika. Sesaat Sella tertegun. Merasakan perubahan dirinya. Ya! Ada yang berubah padanya. Dia seakan terbang melayang bagikan seekor kupu-kupu.  Bukan hanya dirinya saja merasakan hal itu. semuanya telah melayang menikmati permen yang mereka makan. 

Waktu pun terus berlalu, Sella semakin ketagihan mengesumsi pill yang ia sangka permen. Dan nyatanya itu adalah narkoba. Narkoba yang terus menjeratnya ke dalam sebuah neraka yang mengerikan. Hari-hari Sella selalu di temani oleh obat-obatan terlarang itu. tidak terpungkiri kini ia telah berani membawanya pulang ke rumah. Di rumah pun terasa aman baginya sebab orangtua Sella pun jarang berada di rumah. Di tambah ia adalah anak semata Wayang. 

Siang itu, tepatnya hari Minggu. Ayah Sella mencoba memanggilnya. Awalnya Sella terlihat gugup sebab ia mengira orangtuanya telah mengetahui perbuatannya. Di ruang tamu, Ayah Sella menatapnya tajam. “Uang yang ayah berikan kepadamu ke mana, Sella?? Apa yang kamu belikan??” Tanya Ayahnya yang mulai terlihat curiga. Ya, semenjak Sella mengesumsi obat-obatan itu tidak terjumlah Sella meminta uang setiap harinya. Raut wajah Sella mulai ketakutan. “Aku membelikannya perlengkapan sekolah, Ayah.” Ucap sella seraya menyembunyikan kepanikannya. Sella pun mulai berbohong kepada orangtuanya. “Benarkah?? Kamu tidak berbohong kepada Ayah, bukan?!?” “Tidak, Ayah!” begitulah pembicaraan mereka di ruang tamu. 

Hari-hari terus berlalu, kini Sella tidak hanya mengasumsi obat-obatan itu saja. bahkan anak seusianya telah mencoba melakukan hal-hal yang tidak semestinya ia lakukan. Kini Sella telah mencoba melakukannya dengan temannya. Setiap hari, terus begitu.

 Teman Sella mendekatinya dan berkata, “mau mencoba yang satu ini, Sel?? Ini lebih nikmat dari biasanya.” Tunjuknya pada sebuah suntikan di tangan laki-laki itu. sesaat Sella merasa ragu. Tapi Sella terus terpengaruh dan ia pun mengangguk. Laki-laki di sebelahnya pun terus menyuntikkannya di tubuh Sella. 

Sella pun bukan main lagi. Terus meliuk menikmati sensai obat-obatan terlarang itu dan berakhir melakukan hal haram yang di luar kendali Sella. Begitu lah selalu. Sella terus terjerumus dalam kebebasan itu. orangtuanya pun tidak ambil pusing mengapa Sella sering tidak terlihat. sering pulang malam dengan alasan belajar. Ya, mereka sering beranggapan Sella belajar di rumah teman. Sebab dulu Sella adalah anak yang rajin. Anak yang penurut. Anak yang tidak pernah berbohong. Namun, mereka salah. Kini Sella telah jauh dari kata itu. telah jauh bahkan untuk kembali seperti semula cukup sulit.

Di meja makan, Sella menatap wajah orangtuanya sendu. Ia menangis. Sella menitihkan air mata. Tetesan itu kini berubah menjadi isakan-isakan kecil. orangtua Sella tertegun, kenapa anak mereka menangis. “Ada apa, Sella? Apakah ada masalah di sekolah?” Tanya ibu Sella penasaran. Sella menggeleng. “Terus apa? Apakah uang jajan yang ayah berikan kurang?” Tanya Ayah Sella. Sella kembali menggeleng. “Terus kenapa kamu menangis?” kemabli Sella menggeleng. 

Orangtuanya hanya diam. Dan berlalu ketika deringan ponsel berbunyi. Keduanya kembali sibuk dengan pekerjaan dan mengabaikan Sella seorang diri di maja makan. Sella menangis menjadi-jadi. Ia menangis sebab telah terlalu jauh dirinya pergi. Sella berjalan dengan langkah gontai menuju kamarnya. Tiba di kamar, secarik note kembali diisi Sella dengan kalimat-kalimat minta tolongnya. 

Ibu, Ayah tolong kembalikan aku!! aku telah pergi terlalu jauh, Ayah. Sella takut tidak akan kembali lagi, Ibu. Begitulah kalimat yang tertulis di kertas itu. Tubuh Sella tiba-tiba membutuhkan sesuatu. Tubuh Sella menginginkan sesuatu. Sella merasa tubuhnya lemah. Ia merasakan tubuhnya kesakitan tanpa mengesumsi obat-obatan itu. dan akhirnya Sella membuka tasnya. Nampaklah sebuah suntikan dan terus menyuntikkannya di tubuhnya. Lagi dan lagi Sella kembali mengesumsi obat-obatan terlarang itu. dan akhirnya Sella kecanduan akan hal itu. tanpa menggunakannya tubuhnya terasa sakit. tubuhnya merasa lemah. Otaknya tidak dapat berpikir jernih. Begitulah dampak pill itu terhadap Sella. 

Sore itu, Sella berusaha tidak mengesumsi obat-obatan itu. ia ingin dapat berpikir jernih. Namun keinginannya tidak dapat ia turuti. Tubuhnya telah menguasai segala pikirannya. Tubuhnya telah menguasai segala dirinya. Hingga untuk berpikir jernih susah sekali ia lakukan. Semua karena obat-obatan itu. pill terlarang itu telah merusak saraf-saraf otaknya. 

Dengan kesadaran yang sedikit ia miliki, Sella berjalan gontai menuju taman di halama rumahnya. Tangannya dengan terus gemetar mencoba menuliskan sesuatu di bukunya. 

“Hari ini, ke dua kakiku mulai goyah…Telah terlalu lama berjalan di jalan penuh berliku.. Terkadang diriku tersesat di semak-semak belukar.. Dan terkadang lagi, tersesat di hutan yang amat gelap.. Bukan sebentar dan bukan sesaat,, Tetapi berkali-kali.. Hingga tiada kumenemukan jalan untuk kembali.. Pernah aku bertiak.. Berteriak berharap seseorang menemukanku.. Lama pun menunggu.. Waktu pun berlalu.. Tak seorang pun menemukanku.. Semakin lama..  Kegelapan pun mulai menyelimuti mataku.. Hingga tiada lagi cahaya yang terlihat.. Segalanya kulalui dengan mata tertutup.. Menjalani hal-hal yang tak semestinya aku lakukan.. Apalah dayaku,, Ketika diriku semakin tersesat dalam hutan yang amat gelap.. Ingin pun kembali tiada jalan yang kutemukan..

Entah sampai kapan hidup dalam kegelapan.. Bernafas pun mulai terasa sesak.. Menangis pun air mata tak kunjung mengalir.. Begitu keras sampai terlupa cara menangis.. Entahlah.. Adakah mereka yang menemukan diriku di hutan ini.. Hutan penuh dengan tipu muslihat.. Hutan penuh tipu daya.. Hutan yang entah kapan kembali bersinar terang.  Entahlah.. Akupun tak tahu apa jawabannya.. Hanya dapat menunggu, pabila dia datang.. Datang.. Membawaku kembali dari hutan mengerikan ini.. Aku ingin kembali!!” begitulah tulisan panjang yang memiliki makna dalam dari seorang remaja seusia Sella yang terus mengatakan ingin kembali.

Dengan sekuat tenaga Sella terus berusaha menuliskan kalimat demi kalimat yang mengatakan betapa ia telah terlalu jauh berjalan dalam hutan yang gelap. Sangat gelap hingga tiada jalan baginya. Kini Sella terus menunggu dapatkah ia kembali seperti dulu lagi?!? Semua hanya menjadi tanda tanya besar bagi Sella. Sebeb sangat kecil harapan dirinya untuk kembali. 

Waktu terus berlalu, orangtua Sella mulai merasakan perubahan Sella. Ya, perubahan Sella semakin terlihat. Sella jarang bertemu orangtuanya. Jarang mengatakan kebutuhannya. Jarang menatap orangtuanya. Sella sekan mulai terasa jauh bagi mereka. dan sekali ini, orangtua Sella memutuskan tidak bekerja sebab ingin berada di sisi Sella yang sangat mereka rindukan beberapa hari ini. 

Ketukan pintu terdengar di telinga Sella. Namun ia tidak membukanya. Sebab Sella sangat takut dengan perubahan dirinya beberapa bulan ini. tubuh Sella mulai gemetar. Ketakutan mulai menghampirinya. Sebelum orangtua Sella kembali mengetuk pintu, seseorang datang ingin menemui mereka. Dari sekolah Sella kata pembantu rumah itu. Karena penasarn keduanya pun turun menemui guru dari Sella. 

Di ruang tamu, terjadilah percakapan yang membuat tubuh orangtua Sella menjadi gemetar. Orangtua Sella terlihat kecewa. Orangtua Sella terlihat terluka. Amarah pun mulai menguasai diri dari orangtua Sella. Kenapa tidak! ternyata beberapa bulan Sella tidak pernah pergi ke sekolah. Dan mereka tidak pernah menyadarinya sebab Sella selalu memakai seragam setiap paginya dan mengatakan akan pergi ke sekolah. Dan ternyata, anak mereka Sella tidak pergi ke sekolah. Hingga gurunya datang memberikan surat pengeluaran dari sekolah buat Sella Rahima Kumala. 

Ibu Sella hampir pingsan. Kenapa Sella tidak ingin ke sekolah. kenapa anak semata wayang mereka seperti itu. begitu banyak hal yang ingin mereka tanyakan kepada Sella. Ayah Sella pun terus tergesa-gesa mengampiri Kamar Sella. Dan pintu telah terbuka tanpa Sella sadari. Ibu Sella berubah tidak sadarkan diri tatkala kedua mata ibunya terpaku melihat tubuh anaknya yang masih berumur Enam belas tahun itu telah membesar. Tubuh Sella telah berbadan dua. Sella telah mengandung beberapa bulan ini hingga tidak ingin pergi ke sekolah. malu jika dilihat oleh teman-temannya. 

Sang Ayah pun tak kuasa menahan amarah yang kian membuncah. Sang ayah pun melayangkan tamparan yang cukup keras di Wajah Sella. Sella tertegun mendapati tamparan itu. tidak pernah dan tidak sedikit pun Ayahnya memukulnya. Bahkan dirinya selalu di manjakan dengan harta. “Anak kurang ajar kamu, Sella!” Tukas Sang Ayah kepada Sella. Seribu sumpah serapah terus mengalir buat Sella. Sella pun tak kuasa menahan air matanya. Ia menangis ketakutan. Ia bersimpuh memohon ampun kepada sang ayah. Di tambah Sella menayksikan sang ibu pingsan di hadapannya sendiri. 

Saat Ibunya  Sella telah sadar dari sekian jam. Pekerja rumah itu pun ikut mersakan kesedihan melihat rumah majikannya. Sella masih bersimpuh penuh berlinang air mata. “Janin itu harus digugurkan!” ucap Ayah Sella masih dalam keadaan marah. “Tidak Ayah. Aku takut! Aku takut ayah!” Sella terus menolak untuk menggugurkan janin dalam perutnya. Sang ibu pun menimpali, “Apa katamu, Sella?? Kamu masih kecil? tidak tahu mengurus anak. Bahkan mengurus dirimu saja tidak tahu kamu lakukan. Ibu setuju janin itu digugurkan, dan cara bagaimana pun harus digugurkan!” ucap Ibunnya Sella mengiyakan perkataan suaminya. 

Mendengar ucapan ibunya, Sella semakin menangis sejadi-jadinya. Sella di seret menuju Mobil. Sella terlihat meronta-ronta tidak ingin pergi. Berteriak memohon ampun supaya tidak menggugurkan janin dalam perutnya. “Ayah, jangan.. aku mohon!! Sella takut Ayah.. Sella takut.” Sepanjang jalan Sella terus mengalunkan kalimat itu kepada orangtuanya. Ia takut seperti temannya waktu itu. karena menggugurkan janinnya, ia tidak terbangun lagi. Sella takut akan seperti temannya itu. 

Tiba di sebuah tempat aborsi. Ibunya Sella mencoba membuka pintu buat Sella agar segera turun. Lama Sella tidak ingin turun. Dia takut masuk ke dalam rumah itu. dia takut. Sampai-sampai tubuhnya gemetar karena ketakutan. Sang ayah yang cukup keras, dengan paksa menyeret Sella ke dalam tempat itu. “Ayah, Sella mohon ampun… jangan bawa Sella ke sini.. Sella takut Ayah, Ibu..” Sella terus meraung-raung ingin pergi dari tempat itu. lelah menangis Sella pun sadar. Bagaimana pun ia menolak. Orangtuanya tidak mungkin mendengarkan keinginnanya untuk tidak menggugurkan janin dalam perutnya yang sudah cukup besar itu. 

Sella terduduk menunggu namanya di panggil. Orangtuanya terus menatapnya murka. Sella semakin takut ketika mendengar suara yang amat keras dari dalam. Suara itu penuh rasa kesakitan. Sella pun semakin tak kuasa untuk tidak menangis. Matanya telah bengkak akibat menangis sepanjang malam. Beberapa bulan yang lalu Sella memang tidak lagi mengesumsi obat-obatan itu. sebab ia mendegar janin dalam perutnya akan kesakitan jika terus mengunakan pill terlarang itu. dengan pikiran yang masih awam akan hal itu, ia pun sangat percaya dan takut jika janinnya terluka. 

Sibuk dengan pikirannya, kini giliran Sella yang di panggil. Jantungnya berdegup sangat cepat. Tubuhnya merasa lemas. Berkali-kali ia menoleh berharap orangtuanya membawanya kembali pulang. Harapan tinggallah harapan. Orangtua Sella bersikeras untuk tetap mengguurkan janin dalam perut Sella. Setelah Sella diperiksa, orang yang memeriksa tubuh Sella pun memanggil orangtuanya Sella ke dalam. 

“Maaf  bapak, ibuk.. kandungan anak bapak tidak dapat kami gugurkan. Sebab janinnya telah teramat besar untuk di gugurkan.” Jelas orang itu kepada orangtua Sella. “Tidak! bagaimana pun janin itu harus digugurkan. Dia masih kecil, dan tidak mungkin membesarkan bayinya.” Jelas ibunya Sella masih bersikeras menggugurkan janin Sella.

“Tapi..” perkataan orang tersebut terputus sebab Ayah Sella tetap ingin menggugurkan janin dalam perut Sella. Akhirnya, pengaborisan pun dilakukan oleh orang tersebut. Aborsi yang mempertaruhkan nyawa Sella.  Sebelum pengaborsian, Sella meminta sedikit waktu sebelum janinnya di gugurkan. Dengan sepenuh hati, diizinkan oleh orang itu. 

Sella membuka ponselnya. Dan ia mulai membuka akun facebooknya. Jari-jemarinya dengan pelan menuliskan kalimat demi kalimat tentang perasaannya. 

“Wahai sahabatku.. aku Sella anak remaja yang penuh kebebasan dari orangtuaku. Dari kebebasan itu, aku berlari sejauh mungkin hingga aku terjerumus terlalu dalam. Sebab kelalaian orangtuaku, aku pun mulai mengabil kesempatan, dan pada akhirnya segalanya telah aku lakukan. Hingga aku membuat satu perbuatan dan membuatku.. ah cukup akulah yang tahu. kini aku menyesali atas segala perbuatan itu. tapi bagaimanapun aku tidak dapat lagi kembali sebab orangtuaku memaksaku terus pergi. Memaksaku terus pergi jauh. Dan tibalah saatnya.. mungkin inilah akhir dari perjalananku. Dan selamanya aku berada di tempat yang amat gelap itu hingga mataku terpejam. Dengarlah wahai sahabatku, jangan pernah menjadi seperti diriku. jika kalian sayang dengan dirimu, maka janganlah seperti diriku. sebab kebebasan, sebab obat-obatan, sebab kelalaianku, aku pun terjerumus dilubang penuh kenistaan di usiaku yang masih sekecil biji ini.

Itulah, status terakhir dari Facebook Sella Rahima Kumala. Dan setelah itu, Sella pun melakukan aborsi sehingga dirinya tidak dapat lagi melihat dunia. Sella meninggal dunia saat pengguguran janinnya. Kini Sella telah tiada di dunia ini. anak remaja berusia enam belas tahun berakhir di ruangan itu. orangtua Sella yang mendapat kabar anaknya telah tiada pun tidak kuasa. Mereka menangisi Sella yang telah tertutup kain putih. Tubunya penuh bersimbah darah. Bahkan bibir Sella terlihat berdarah akibat menahan sakit yang teramat menyakitkan. Tida sanggup bagi seorang anak seusia dia merasakan hal seperti itu.

Bahkan sebelum Sella memejamkan mata buat selamanya, hatinya sempat berkata, “Siapa pun mereka, semoga tidak pernah merasakan hal seperti diriku. cukup aku yang merasakan hal seperti ini hingga merenggut satu nayawa yang kumiliki. Jangan pernah wahai wahabatku.. sungguh sangat teramat sangat menyakitkan.” Itulah ungkapan terakhir dari Sella Rahima Kumala.

Orangtua Sella sangat menyesal sebab telah lalai menjaga anak semata wayangnya. Andai mereka tidak di sibukkan dengan pekerjaan, kejadian ini tidak mungkin menimpa Sella anak mereka. andai mereka selalu memberi perhatian kepada Sella, tidak mungkin anak mereka melakukan perbuatan yang merusak dirinya sendiri. Kata Seandainya terus terlontar begitu saja dari bibir orangtuanya Sella. Tapi semua telah terjadi. Dan pada akhirnya, Sella tidak pernah dapat kembali. Sella tetap pergi jauh tapa seorangpun membawanya kembali. Begitulah kisah dari seorang Sella Rahima Kumala yang meninggal dalam keadaan terus mengatakan Aku Ingin Kembali! Dan pada akhirnya ia terus pergi jauh di tempat yang amat gelap yang mencekam.

Semoga tiada lagi orangtua seprti orangtuanya Sella yang selalu disibukkan dengan pekerjaan. Semoga tiada lagi orangtua seperti orangtuanya Sella yang melupakan tuganya sebagai orangtua. Dan semoga tiada lagi anak seperti Sella Rahima Kumala yang terlalu jauh dari jalan yang benar. Semoga tiada lagi orang seperti Sella Rahima Kumala yang tidak dapat kembali lagi. Semoga tidak ada lagi seperti mereka, Insya Allah.. [rw]