Oleh:
@027rikaajaa
“Aku percaya jodoh itu ada, sebab aku percaya Allah
itu ada. Aku percaya jodohku ada, sebab aku percaya Tuhan itu ada.” Begitulah
untaian kata-kata yang terus mengalir dari bibir Siti Aminah.
***
Namanya Siti Aminah,
biasanya kerap di panggil Siti. Perempuan yang telah berusia hampir genap
berkepala empat itu. kini Allah sedang menguji kesabaran dan keimanannya.
Sampai saat ini, di usianya yang semakin tua, Siti belum jua menemukan pasangan
hidupnya. Siti belum menemukan jodohnya. Para tetangga pun terus
berbisik-bisik, “Betapa sayangnya si Siti itu sampai sekarang belum menikah
juga. Sudah lama menjadi perawan tua.” Begitulah selalu gunjingan para tetangga
kepadanya.
Namun, Siti terus
berusaha untuk tetap bersabar. Ia tahu, Allah sedang mengujinya. Hari-hari pun terus
berlalu, kini bukan hanya para tetangga yang membicarakannya. Saudara serta
keluarganya pun semakin mendesak Siti untuk menikah dengan seseorang.
Orangtuanya terus mendesak Siti untuk menikah dengan piliha ibunya. Siti yang
sangat penurut terhadap orangtuanya pun hanya diam saja. ikhlas dengan keadaan.
Tiba saatnya, seseorang
pria datang menemuinya di rumah itu. betapa teramat sangat bahagia orangtuanya
Siti, mereka berharap pria itu ingin menikahi anaknya . orangtua Siti merasa
sangat malu selalu mendengar kasak-kusuk tentang putrinya yang tak kunjung
menikah. Siti yang memakai baju biasa dan kerudung panjang sepinggangnya pun
duduk di sisi kedua orangtuanya. Sedari tadi pandangan pria itu terus
menatapnya. Entah tatapan mencemooh, Siti pun tidak mengetahui hal itu.
“Maaf bapak, buk.. saya tidak dapat menikahi putri bapak.
Putri bapak sudah terlalu tua buat saya. saya masih terlalu muda memiliki istri
seperti dirinya.” Begitulah kalimat menusuk yang tertuju kepada Siti. Siti yang
mendengarnya pun hanya diam terus mencoba bersabar. Pria itu pun pergi
meninggalkan mereka dalam keadaan sedih.
“Kenapa kamu begitu
sial, Siti?? Ibu sangat malu..” Ucap Ibunya Siti berlinang air mata. Siti hanya
dapat menunduk berusaha menahan air matanya yang terus ingin mengalir. Bapak
Siti, hanya dapat menghembuskan nafasnya, dan berlalu meninggalkan Siti seorang
diri dalam keadaan diam.
Kini, bisik-bisik
tetangga semakin menjadi-jadi. Di tambah beberapa pria yang terus kembali dan
tidak ingin melamar Siti sebeb mengatakan Siti perempuan tua. Orang-orang terus
semakin bergunjing dan tidak pernah tahu akan perasaan Siti yang teramat sangat
terluka dengan kalimat-kalimat mereka. Siti terus berdoa semoga Allah
memberikan jodoh kepadanya. Siti tetap istiqomah dan terus berikhtiar kepada
Allah. Setiap malam, setiap sepertiga malam Siti terus terbangun dan memohon
kepada Allah semoga dirinya di berikan jodoh yang terbaik kepadanya.
“Ya Tuhan.. aku percaya
sebab engkau telah berkata setiap manusia pasti memeiliki jodoh. Dan aku sangat
percaya sebab engkau tidak mungkin berdusta. Hanya saja, engkau masih menunggu
memberikannya kepadaku. Aku tahu, sebab Engkau masih ingin melihat kesabaran
dan keimananku. Tidak mengapa Ya Tuhanku.. tidak mengapa selagi Engkau selalu
di sisiku. Tidak mengapa selagi Engkau masih menyayangiku. Satu pintaku,
berilah kesabaran untukku agar tetap Itiqomah di hadapanmu.” Begitulah seruan
Siti dalam doa sholat malamnya.
Dalam perkumpulan
keluarga besar Siti, semua orang menyebut namanya. kalimat demi kalimat terus
tertuju kepada Siti. Kini, Siti tidak hanya dibicarakan di masyarakat, tetapi
dalam keluarga besarnya pun terus membicarakan tentang dirinya. Siti yang saat
itu sedang duduk di sisi mereka, memutuskan pergi menjauh berusaha tetap menerima
dan terus tersenyum.
Di dapur, ia berusaha
masih tersenyum. Setiap kali hatinya terluka, ia selalu mengingat kebesaran
Allah. Bibirnya terus berzikir kepada sang pencipta dikala orang terus
membicarakannya. Namun, Siti hanya seorang wanita biasa, kapan pun ia dapat
menangis sebab teramat terluka dengan omongan tajam kepadanya.
Waktu terus berlalu,
kini Usia Siti telah genap Empat Puluh tahun. Ia telah lelah dengan bisik-bisik
tetangga terhadapnya, mulai lelah mendengar desakan orangtuanya yang terus
memaksa Siti untuk menikah. Tapi, dengan siapa dia menikah. Tiada seorang pun pria
yang ingin menikahi dirinya. Hingga di suatu
ketika, tepatnya malam Jumat, tatkala Siti terus mengalunkan Surat Al-Kahf di
malam penuh berkah itu. hingga suara ketukan terdengan dari luar pintu
rumahnya.
Ibunya yang saat itu
tidak jauh dari ruang tamu pun membukakan pintu itu. Hingga terlihatlah seorang
pria yang datang menghampiri rumahnya dengan maksud bersilaturahmi. Lama Ibu Siti
tertegun melihat pria yang teramat tampan dan gagah nan tinggi berdiri tegap di
depan rumahnya. Orangtuanya pun mempersilahkannya masuk.
“Siti, buatkan
minuman…” Suruh ibu Siti tatkala Siti telah menyelesaikan Surah Al-Kahf-nya. Ayah
Siti yang baru datang dari Surau pun ikut duduk bersama Ibunya Siti. Di hati
mereka tidak sedikitpun terbesit maksud kedatangan pria itu di malam seperti
ini. sebab, orangtuanya Siti telah pasrah dengan keadaan. Tidak berharap apa
pun lagi untuk putrinya.
Siti yang datang dengan
membawa secangkir kopi pun menghidangkannya ke pada pria itu. pandangannya
terus menunduk, tanpa ingin menoleh siapa tamu yang datang. Siti masih menjaga
pandangannya. Setelah ia menghidangkan minuman itu, ia pun kembali masuk dan
bersandar di balik tirai pembatas antara ruang tamu dengan dapur.
Sesaat Siti mencoba
mendengarkan pembicaraan orangtuanya di ruamg tamu. Dan seketika tubuh siti
terus bergetar tatkala kata lamaran
mengalir dari bibir Pria yang datang ke rumahnya. Siti tak kuasa untuk tidak
menangis. Tubuhnya pun ikut luruh sebab tidak percaya akan hal ini kepadanya.
Siti sujud Syukur sebab Allah telah mengabulkan doa-doanya selama ini. Allah
telah menunjukkan kebesarannya. Siti percaya bahwa Allah selalu berada disetiap hambanya yang sabar. Siti terus
menangis berharap semua ini bukanlah sebuah mimpi. Orangtua Siti pun memanggil
namanya ke ruang tamu. Siti yang masih menitihkan air mata pun dengan cepat
mengusap air matanya. Tiba di ruang tamu, jantung Siti terus berdebar, ia takut
dengan sekejab hati pria itu berubah kepadanya. Ia takut pria itu menarik
kembali kata-katanya.
Siti duduk di anatara kedua
orangtuannya. Sekilas pria itu memandangnya lalu kembali membuang pandangannya
kepada orangtua Siti. “Saya akan menikahi anak bapak.” Begitulah kalimat yang
mengalir dari pria itu. Siti yang mendengarnya pun kembali bersujud syukur kepada
Allah. Ternyata pria itu ingin menikahi dirinya. Ternyata pria yang gagah tegap
itu ingin menjadikannya sebagai istri. Ternyata pria itu ingin menjadikannya
sebagai pendamping hidupnya , perempuan tua yang sering di gunjing orang.
Orangtua Siti pun tak kuasa terus menangis. Mereka menitihkan air mata bahagia,
akhirnya putrinya yang sering menjadi omongan akhirnya menikah. Menikah dengan
pria yang amat tampan. Menikah dengan pria yang sangat darmawan. Menikah dengan
pria yang sangat kaya. Menikah dengan pria yang memiliki hati yang mulia.
Tibalah hari pernikahan
Siti dengan Ahmad, pria yang saat itu datang mempersuntingnya. kini mereka
telah bersanding bagai putri-raja. Kini, mulut-mulut yang terus terbuka
mengeluarkan kalimat-kalimat tak sedap, akhirnya tertutup rapat. Orang-orang
yang sering kali bergunjing di belakang Siti akhirnya terkunci dan bungkam saat
menyaksikan pernikahan Siti yang sering kali mereka sebut perawan tua.
Mereka tidak mengerti
bahwa Allah dengan mudah menunjukkan segalanya. Mereka terlupa bahwa masih ada
Allah yang dapat melakukan segalamya. Mereka lupa, Bahwa Allah-lah yang
memiliki dunia ini. mereka melupakan dan terus menikmati perbuatan mereka yang
sangat tidak baik.
Kini, usia pernikahan
Siti dengan Ahmad telah genap Dua tahun. Namun mereka pun belum kunjung
dikaruniai seorang bayi. Ujian di keluarganya masih terus di uji oleh Allah.
Sampai saat ini, mereka belum mendapatkan anak. Siti belum jua hamil. Setiap
kali ia memeriksakan kondisinya ke dokter selalu mengatakan tidak ada. Keluarga
itu terus berusaha dan berdoa agar Allah memberikan kehadiran seorang anak di usianya yang semakin Senja. Mungkin,
di mata manusia sangat mustahil di usia mereka yang hampir senja dapat memiliki
anak. Anak yang menjadi pelengkap dalam sebuah keluarga. Tanpa seorang
kehadiran buah hati, kehidupan ruamah tangga terasa tidak lengkap. Begitulah
perasaan yang di rasakan pasangan suami-istri itu.
Waktu terus berlalu,
bibir-bibir yang dulunya telah terkunci rapat, kini kembali terbuka. Mengalirlah
kembali kata demi kata yang menusuk bagi keluarga itu. mengalunlah kembali
kalimat demi kalimat yang sangat menaykitkan bagi pasangan itu. orang-orang
tersebut belum jua tersadar. Selalu mereka membicarakan hal-hal yang tidak
semestinya mereka bicarakan. Sungguh bibir itu belum jua bungkam dan belum
sadar atas kebesaran Tuhan Yang Maha Esa.
Saat itu, bertepatan
hari libur. Siti bersama suaminya berkeunjung ke ruamh orangtuanya yang telah
sebulan ini tidak mereka kunjungi. Setiba di rumah, mereka menyalami kedua
orangtuanya dan terus memancarkan aura kebahagiaan. walau belum dikaruniai
seorang buah hati. tapi, Siti bersama suaminya terus tetap bersyukur. Sebab
mereka paham betul, Allah itu ada dan pasti mengabulkan doa-doa mereka. hanya
saja, belum saatnya Allah mengulurkannya. Beberapa hari menginap di rumah
orangtunya, akhirnya mereka memutuskan kembali sebab Ahmad suaminya memiliki
pekerjaan yang harus ia jalankan.
Seperti biasa, saat
suaminya pergi bekerja, Siti terus tetap istiqomah dan berdoa kepada Allah
semoga doa-doanya dijamah oleh Allah Subahanallahu ta’ala. Dan Siti pun
berencana memeriksakan keadaanya ke dokter
berharap berita bahagia yang ia terima. Namun, kembali kata tidak yang dia
dengar dari dokter tersebut. Hanya air mata saja yang terus mengalir dari mata
Siti. Ia telah Ikhlas dengan keadaan. Bagaimana pun, jika Allah belum
memberikannya mau menginginkan sebesar apapun jua tetap tidak ada.
Semenjak itu, Siti
tidak lagi pergi memeriksakan kandungannya. Sebab ia tahu kata dokter itu hanya
tidak. suaminya pun telah Ikhlas
dengan keadaan. Walau Allah belum mengizinkan mereka menjadi orangtua, namun
setiap sepertiga malam pasangan itu selalu terbangun dan bersujud memohon
kepada Allah semoga masih diberikan kesempatan itu kepada mereka.
Hari-hari pun kembali
tarsus berlalu, kini Siti tidak bersedih lagi. Ia memutuskan mengadopsi seorang
anak dari pantai asuhan. Kesehariannya terus mengurus suami dan anak angkatnya
yang bernama Sarah. Sering kali juga mereka mengunjungi panti asuhan tempat
Sarah dibesarkan dan tidak sedikit pasangan itu memberikan sumbangan untuk
anak-anak yatim piatu di panti itu. Ahmad
pun mulai merasa bahagia sebab rumah mereka mulai terdengar tawa istri dan anak
angkatnya itu. keluarga mereka pun terasa sudah lengkap walau Sarah anak kecil
itu bukan anak kandung dari hubungan mereka.
Suatu ketika, Siti
merasakan perubahan pada dirinya. Kepalanya sering pusing. Sesekali
pandangannya berkunang-kunang. Siti teramat takut penyakit apa yang menderanya.
Seringkali rasa sakitnya ia sembunyikan dari suaminya. Ia takut Ahmad kahawatir
dengan keadaannya. Sarah yang selalu menemaninya pun mulai jarang berada di
sisinya, sebab Sarah telah beranjak berumur tujuh tahun. Sarah pun jika di pagi
hari serta siang berada di sekolah.
Kepala Siti semakin menjadi
teramat sangat sakit. perutnya terasa sakit dan sesekali mual mendera dirinya.
Ia pun memutuskan pergi ke rumah sakit yang telah lama tidak ia injak. Tanpa
minta izin dari suaminya, ia pun pergi. Setelah pemeriksaan dilalukan oleh
dokter kepadanya. Lama dokter itu
tertegun. Lama dokter itu terdiam. Siti pun yang melihat perubahan di wajah
dokter itu pun mulai menerka-nerka penyakit apa yang telah menghinggapinya.
“Apakah saya sakit
parah, dokter??” tanya Siti takut-takut mendapat kabar yang membuat hatinya
terluka. Dokter yang ia tanya pun tak kunjung menjawab. Dokter itu malah
menitihkan air mata. Siti pun dihampiri katakutan yang amat parah. Tentulah ia
mengatakan bahwa dirinya mengidap penyakit yang sulit disembuhkan. Begitulah
isi pikiran Siti saat itu.
“Berapa usianya,
Ibuk??” tanya dokter itu pelan. Siti yang sudah curiga pun menjawabnya pelan,
“Empat puluh tiga tahun, dokter.” Dokter itu pun semakin terpaku seraya
menggelengkan kepalanya. “Selamat Ibuk, akhirnya keinginan terbesar ibu telah
dikabulkan oleh Allah. Usia kandungan Ibuk telah genap dua bulan.” Jelas dokter
itu terus tersenyum sambil menitihkan air mata.
Siti yang mendengarnya
pun tertegun. Bagaikan mimpi ucapan dokter itu kepadanya. Siti pun tak kuasa
menangis sejadi-jadinya. Ia menangis ternyata Allah masih memeberikan
kesempatan baginya menajdi seorang ibu. Allah masih memberikan kesempatan
kepadanya menajdi seorang istri sempurna buat suaminya. Ternyata Allah masih
memberikan kesempatan baginya merasakan seorang perempuan yang sempurna.
Saat tiba di rumah pun
air matanya terus menaglir. Sang suami yang mendapatinya di ruang tamu pun mulai
khawatir. Telah lama usia pernikahan mereka, tidak pernah ia melihat istrinya
menangsi seperti saat ini. dengan perasaan khawatir, ia pun memeluk istrinya
dengan penuh kasih sayang. Siti pun kembali tak kausa untuk terus menangis.
Hingga Siti menceritakan segalanya tentang kondisinya yang telah menagndung dua
bulan. Sang suami pun tak jua kuasa untuk tidak menangis. Pasangan itu bersujud
syukur dan terus bersyukur tenyata semua
doa-doa mereka telah di dengar oleh Tuhan Yang
Maha Esa.
Orangtua Siti pun
bergitu teramat bahagia mendengar kabar bahagia dari putrinya Siti Aminah.
Sungguh orangtua Siti sangat bahagia atas segala nikmat Allah yang telah ia
berikan seindah itu kepada putrinya. Kini, bibir-bibir yang sering bergunjing,
akhirnya kembali tertutup rapat. Mereka akhirnya sadar, bahwa Allah itu maha
besar. Orang-orang yang sering meneybut nama Siti Aminah itu akhirnya
menitihkan air mata sebab terlalu merendahkan dirinya. Mereka melupakan jika
Allah memiliki segalanya yang dengan mudah dapat melakukan apapun yang di luar
batas pemikiran hambanya.
Maka sudah jelas,
Sesungguhnya urusan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu dan berkata “Jadilah”
Maka terjadilah ia. Subahanallah.. Maha Suci Allah atas segala kebesarannya. Sebuah
pasangan suami-istri yang telah melewati banyak rintangan, ternyata inilah buah
dari kesabaran mereka selama ini. Ternyata Allah menunjukkan kebesarannya
melewati pasangan yang selalu tawaqal dan tetap bersabar menjalani ujian yang
Allah berikan. Mata yang awalnya terus tertutup dan mengabaikan segala
kekuasaan Allah yang meliputi langit dan buminya akhirnya terbuka lebar dari
pasangan itu.
Kini, Siti Aminah yang
disebut perawan tua. Yang disebut seorang istri yang tidak sempurna. Akhirnya
telah menunjukkan betapa ia sempurna. Allah memberikan sedikit kesempurnaan itu
kepada dirinya hingga ia dapat menajdi seorang istri sekaligus seorang ibu.
Kini. Pasangan itu telah dikaruniai anak kembar yang sangat cantik dan tampan.
Siti melahirkan anak kembar dari hubungan halalnya bersama seorang suami yang
selalu senantiasa terus bersamanya. Seorang suami yang menerima segala
kekurangan pada dirinya. Seorang suami yang membuatnya menajdi seorang wanita
sempurna.
Itulah kisah dari
wanita yang kerap disebut perempua Tua. Sebuah kisah yang mengharukan yang
kerap dipanggil perawan tua. Akhirnya Allah menjadikannya wanita sempurna.
Kisah wanita yang selalu sabar dan pada
akhirnya memetik buah dari kesabaran yang telah lama ia semai. kisah yang
begitu banyak hikmah yang dapat dipetik di dalamnya. Siapa pun diantara kalian
yang memiliki kisah seperti Siti, sungguh beruntung dikau sebab Allah teramat
sangat sayang kepadamu. Tetaplah bersyukur dan istiqomah sebab tuhan itu ada.
Kita ada sebab dia pun ada. Kita dapat melihat dunia yang indah sebab Dia pun
ada. Maka tetaplah bersabar, Insya Allah, Allah senantiasa selalu bersama kita.
Insya Allah.. [rkw]

