Jumat, 22 April 2016

"EGO dan PERPISAHAN"




Di saat sore senja, aku duduk sendiri di bibir pantai ini. Semilir angin datang menerpa wajahku, seakan Terbuai dan terlena akan sentuhannya. Lama aku termenung menatap matahari diupuk sana. Sebentar lagi, Matahari akan pergi meninggalkan bumi dalam kegelapan. Gelap tanpa cahaya.

Bumi tidak sempurna tanpa adanya matahari yang menerangi. Malam tidak akan indah tanpa bulan dan bintang menghiasi. kacamata tidak berfungsi jika hanya sebelah. Manusia tidak bisa berjalan jika hanya punya satu kaki.
Dua kata yang sangat aku benci “perpisahan dan egois” dua kata itu yang selalu aku hindari. Tetapi  semakin aku menghindarinya, dia semakin mendekat dan menghancurkan semuanya.

Awal bertemu, seperti kacamata yang selalu menempel dalam satu tangkai. Bagaikan daun yang lengket dalam satu dahan. Ketika bersama seperti tangan dan kaki yang tidak terpisahkan. Canda dan tawa bagaikan deru ombak yang menyatu.
Perubahan demi perubahan semakin terlihat. Awal yang indah berakhir dengan keterpurukan. Berpisah seakan tidak saling membutuhkan. Mengabaikan jeritan hati yang ingin bersama. Bertemu seolah tidak saling mengenal. Tatapan mata seakan merendahkan. Ego bagaikan raja yang selalu memerintah.

Hidup tidak akan berarti tanpa adanya kebersamaan. Hidup ini tidak akan berfungsi jika tidak bersama-sama. Bisakah kita seperti dulu lagi yang selalu bercanda, tawa bersama, saling membantu jika kesusahan, saling mengajari jika tidak tahu, saling mengingatkan, saling memberi dan melengkapi satu sama lain.

Umur semakin bertambah, pikiran juga berubah. Detik, menit, hari, minggu, bulan dan tahun akan berganti dan berlalu. Tidak lama lagi kita semua akan berpisah. Masing-masing di antara kita semua akan pergi. Entah kapan kita bertemu lagi.

Semester demi semester kita jalani. Rintangan demi rintangan kita lalui. Namun kenapa, hanya karena ke tidak cocokkan menjadi penghalang kebersamaan di antara kita. Kini, kita berusaha saling menjatuhkan, menjelek-jelekkan satu sama lain.  Tidak bisakah kita menghadapi dan mengatasi itu semua. Jangan jadikan  ke tidak cocokkan ini penghancur dan pemisah antara kita.  Tapi jadikan lah ke tidak cocokkan ini menjadi penyatu untuk kebersamaan  kita.

Masalah adalah hal biasa. Jangan menghindar jika dia datang menghampiri. Tapi hadapi dia dengan ketabahan dan keikhlasan. Sebab, Tanpa adanya masalah kita tidak akan merasakan nikmatnya kehidupan.

Mari ulurkan tangan dan berpegang satu sama lain. Mari kita berjalan bersama-sama tanpa ada yang tertinggal di belakang. Sebab kita adalah bhineka tunggal Ika. Walaupun kita berbeda namun kita tetap satu.

Rabu, 20 April 2016

HABIS GELAP TERBITLAH TERANG (R.A. Kartini)





Tanggal 21 April, siapa yang tidak tahu tanggal itu. Apa lagi bagi kaum perempuan, pastinya kita para kaum perempuan sangat tahu hari apa itu. Ya.. itu adalah hari  lahirnya R.A Kartini. Hari lahir Kartini dijadikan pertama kali menjadi hari nasional oleh presiden pertama kita yaitu Dr. Ir. H. Soekarno yang diresmikan pada tanggal 2 Mei 1964 berdasarkan Kepres RI No. 108.

Nah, untuk  lebih jelasnya yuk kita intip sedikit siapa sebenarnya R.A Kartini itu?
 Siapa yang tidak mengenal R.A Kartini? Mungkin semua orang tahu siapa dia. Raden Ajeng Kartini adalah seorang pahlawan yang telah memperjuangkan hak-hak kaum perempuan pada masa itu.

Raden Ajeng Kartini merupakan anak perempuan dari Raden Mas Ario Sosroningrat, bupati Jevara  dan ibunya bernama M.A Ngasirah. R.A Kartini lahir tanggal 21 April 1879 di Jevara, Jawa Tengah. Beliau Merupakan pelopor kebangkitan perempuan pribumi. Kenapa dikatakan demikian? Karena R.A. Kartini para perempuan bisa memiliki kebebasan. Kebebasan dalam segi apa?

Pada saat itu, budaya Patriarki sangat di dewakan. Kedudukan  perempuan derajatnya lebih rendah dari kaum laki-laki. Para kaum perempuan tidak boleh melakukan ini dan itu.  Perempuan tidak di perbolehkan sekolah, bekerja, bahkan memilih dan berpendapat. Perempuan seperti “Sangkar Madu” yang diciptakan oleh kaum laki-laki saat itu.

Dengan keberanian dan tekad yang kuat, Kartini  berdiri di paling depan demi menyuarakan bahwa para perempuan berhak bebas dan terlepas dari belenggu kaum penjajah. Sebab, tanpa adanya perempuan suatu negeri tidak akan berdiri. Kenapa? Karena perempuan adalah tiang negara. Perempuan dengan tangan kanannya menggoyang buaian dan tangan kirinya menggoyang dunia. Begitulah ibaratnya. Bahkan para pengamat berpendapat perempuan adalah keajaiban dunia yang kedelapan setelah keajaiban dunia ketujuh. Begitu luar biasa seorang perempuan. perempuan juga memiliki hak untuk berpartisipasi dan berkarya seperti halnya dengan laki-laki. dan tidak ada batasan bagi mereka yang ingin berperan di dalam masyarakat. hanya saja tidak melupakan kewajiban dan tanggung jawabnya sebagai seorang perempuan. 

Keinginan Kartini memperjuangkan hak-hak kaum perempuan sangat luar biasa. Karena perjuangan beliau  para kaum perempuan bisa memiliki kebebasan. Yakni, memiliki kebebasan mengenyam pendidikan, kebebasan bekerja, memiliki jabatan, bahkan kebebasan memilih dan berpendapat.

Perjuangan beliau bukan hanya sampai di situ, Kartini juga membangun sebuah sekolah untuk kaum perempuan saat itu. Dan  keinginannya untuk membangun sekolah disetujui oleh suaminya yang bernama Djojo Adiningrat. Namun, takdir tidak berpihak kepada beliau. R. A. Kartini menghembuskan nafas terakhirnya beberapa hari setelah  melahirkan anak pertama dan terakhirnya yang bernama Soesalit Djojoadhiningrat tanggal 13 September 1904. Beliau wafat berusia 25 tahun pada tanggal 17 September 1904.  R.A. Kartini di makamkan di desa Bulu, 17 km dari kota Rembang.

Dan semasa hidup Kartini, beliau sering menulis dan berkirim surat kepada rekan-rekannya di  Belanda termasuk Snouck Hurgronje tahun 1911, Mr. JH. Abendanon. Semua surat-surat yang ditulis oleh beliau dikumpulkan menjadi satu dan diberi judul “Habis Gelap Terbitlah Terang”.




Senin, 18 April 2016

MAHASISWA DAN GLOBALISASI




Berbicara tentang mahasiswa mungkin tidak asing lagi di telinga kita. Dan jika di tanya apa itu mahasiswa anda pasti menjawab mahasiswa adalah sebutan untuk orang di perguruan tinggi, seorang calon sarjana atau lain sebagainya. Nah, Pengertian mahasiswa itu sendiri menurut Hartono merupakan masa depan bangsa yang bersifat mutlak memajukan bangsa dan sesuai dengan aplikasi ilmu yang dimiliki. Atau mahasiswa adalah pelajar yang sedang menuntut ilmu di perguruan tinggi.

Nah mahasiswa bukan hanya sekedar nama sebutan bagi mereka di perguruan tinggi atau seorang calon sarjana tetapi mahasiswa juga di tuntut sebagai  agent of change, control social dan iron stock. Di mana mahasiswa sebagai agent of change adalah mahasiswa itu merupakan agen dari suatu perubahan bangsa yang saat ini jauh dari kata ideal. Mahasiswa tidak boleh lagi jadi pengikut namun harus tampil membawa perubahan karena masyarakat berharap banyak kepada mahasiswa dengan keintelektualitasnya. Kemudian  mahasiswa sebagai control social di mana mahasiswa bukan hanya sebagai pengamat atau melihat-lihat keadaan di sekitarnya tetapi mahasiswa juga dituntut sebagai pelaku dalam masyarakat. Karena tidak di pungkiri lagi mahasiswa merupakan bagian dari dalam masyarakat itu sendiri. Dan yang terakhir mahasiswa sebagai iron stock, di mana mahasiswa diharapkan mampu menjadi manusia tangguh yang memiliki kemampuan dan akhlak mulia agar dapat menjadi penerus generasi-generasi bangsa mendatang.


Membahas mahasiswa juga tidak terlepas dari kata Globalisasi. Di zaman sekarang siapa yang tidak tahu apa itu globalisasi. Globalisasi itu sendiri adalah universalitas, hilangnya batas antar negara. Di mana globalisasi itu sendiri di tandai dengan kemajuan di bidang teknologi, komunikasi, transportasi dan lain sebagainya. Globalisasi itu sendiri memiliki dampak psitif dan negatif, di antaranya dampak positif kita dapat menerima informasi dengan cepat dan bergerak dengan cepat. Maksudnya informasi apa saja kita bisa peroleh dengan cepat melalui handphone, internet, dan lain-lain. Sedangkan bergerak dengan cepat, kita tidak perlu pergi ke suatu tempat dengan berjalan kaki. Melainkan kita bisa pergi menggunakan alat transportasi yang begitu canggih seperti pesawat, kapal, mobil, sepeda motor, kereta api dan lain-lain. Itulah beberapa keuntungan dari globalisasi. Dan ternyata bukan hanya dampak positif saja yang ada, tetapi dampak negatif dari globalisasi itu juga memiliki dampak yang luar biasa bagi masyarakat. Bahkan mampu menghipnotis masyarakat sehinnga terlena. Mungkin kita tidak sadar bahwa kita sekarang sedang di jajah melalui virus 4 F yaitu Food, Fasion, Fun, and  Film. Mereka menjajah kita melalui ke empat virus itu. jika kita lihat makanan dari luar begitu banyak masuk ke indonesia bahkan ada di mana-mana. Dan tidak kita pungkiri lagi salah satunya adalah Aceh.  Makanan seperti Kebab atau KFC ada di mana-mana. Mahasiswa tidak akan gaul atau ngetren jika tidak makan kebab atau KFC, kalau memakan Kue Timpan atau yang lainnya nanti di bilang jadul!. Jika di suruh memilih antara Kebab dengan kue Timpan rata-rata akan memilih Kebab. Padahal makanan Aceh lebih enak dari itu semua. Dan tanpa kita sadari kita sudah menghilangkan salah satu cirikhas Aceh yang seharusnya kita banggakan tetapi kita malah memilih makanan luar yang tidak seharusnya.

Virus kedua yaitu Fasion. Kalau membahas masalah Fasion mahasiswa adalah juaranya. Jaman sekarang tidak pakai fasion yang tren, lah ketinggalan zaman!! Perkataan itu mungkin sudah berulang-ulang kali di ucapkan. Namun mereka tidak sadari Fasion seperti apa yang mereka pakai? apakah sesuai dengan kondisinya? Pakaian pembalut atau menutup auratkah? Tetapi hal seperti ini rata-rata mahasiswa seolah-olah tidak mahu tahu padahal mereka tahu. Kita tinggal di Aceh, cara berpakaian memiliki aturan tidak hanya membalut badan tapi harus menutup agar tidak di hinggapi lalat-lalat jahat. Tetapi coba perhatikan di sekitar kita, cewek-ceweknya kalau tidak pakai celana ketat tidak gaul, kalau tidak pakai baju yang ketat nanti tidak langsing. Pakai jilbab kalau tidak di ikat keleher nanti tidak seksi. Untuk apa itu semua kalau diri sendiri yang rugi. Bahkan pergi kemana-mana fasionnya harus berbeda-beda. Pergi kepantai kalau pakai gamis nanti di bilang pergi kepengajian. Pergi ke mall pakai baju yang begini, pergi kuliah harus pakai fasion yang ini. astakfirullah.. tanpa kita sadari kita juga sudah menghilangkan salah satu cirikhas Aceh yang seharusnya cara berpakaiannya tidak seperti itu. Inilah manusia yang sudah terhipnotis dan terlena oleh budaya luar.


Virus yang ke tiga adalah Fun. Maksudnya hiburan di sini seperti pacaran, pergi jalan-jalan yang tidak bermanfaat, selfi-selfi atau yang lainnya. Tujuan mahasiswa pergi dari kampung untuk kuliah demi meraih cita-citanya, bukan malah pacaran ke sini. Jaman sekarang jomblo waduh ngak laku-laku ya? Kata-kata seperti ini sudah biasa kita dengar. Apakah kita tidak berfikir dengan pacaran kita bisa lalai dari tujuan utama. Patah hati, kuliah terbengkalai! pacaran cowoknya tidak berduit cewek mah mana mau ? Demi pacaran rela tidak makan satu bulan, lah iya uangnya sudah habis untuk hura-hura dan jalan-jalan! kita tidak memikirkan bagaimana orangtua di kampung yang bercucuran mengeluarkan keringat demi kita di sini.

Jalan dikit selfie, mundur sedikit selfie, mereng dikit selfie. Seperti Sahrini saja maju mundur, maju mundur selfe. Tanpa selfi rasanya kek gimana gitu! Inilah salah satu penyakit yang sudah melekat dalam tubuh mahasiswa. Sehari saja tidak selfie galaauu!! Dan tanpa di sadari, kita juga sudah terhipnotis. Budaya barat berhasil membuat kita terlena oleh itu semua. Jika keadaan sekitar kita seperti itu jangan terlalu mudah terpengaruh, tetap kita harus memiliki Filter agar semuanya tidak langsung masuk dalam diri kita. Kita harus menyaringnya mana yang baik dan mana yang buruk.

Virus yang keempat yaitu Film. Jika membahas tentang film mungkin tidak akan ada habis-habisnya. Film di Indonesia ada empat yang sering di tampilkan, pertama Bollywood, Hollywood, Mandarin atau Cina dan yang terakhir Indonesia. Kita lihat sekarang begitu banyak film-film yang tidak sesuai dengan klasifikasinya. Berapa jenis film yang masuk ke dalam negeri seperti konten-konten dewasa yang bahkan sama sekali tidak di sensor. Bagi kita seorang mahasiswa mungkin sudah bisa memilah-milah ini baik dan ini tidak baik. Lah kalau anak-anak mereka mana tahu ini baik dan tidak baik. Mereka itu masih kecil yang harus di bimbing. Dan tanpa kita sadari moral anak bangsa telah di kotori oleh film-film yang tidak bermoral. Generasi penerus bangsa sedikit demi sedikit mersot dan hancur begitu saja. Kalau sudah begini Bagaimana bisa maju kalau jalan menuju kesuksesannya saja sudah rusak. apakah kita hanya diam saja.

Sebagai mahasiswa kita boleh ikut sistem, tetapi jangan sampai tersugesti atau teracuni oleh sistem. Mahasiswa harus selalu berlatih untuk bisa lebih peka terhadap keadaan di sekitarnya. Dan kita harus memiliki prinsip ABC yaitu Ambil yang baik, Buang yang buruk, Ciptakan yang baru. Apapun perubahan yang terjadi di sekitar kita, jika kita memiliki prinsip ABC maka kita tidak akan mudah terpengaruh oleh itu semua. Sebab kita memiliki filter yang tidak mudah di tembus oleh Virus-virus yang dapat membunuh. Dan mahasiswa tidak boleh lagi jadi pengikut namun harus tampil membawa perubahan karena masyarakat berharap banyak kepada mahasiswa dengan keintelektualitasnya.  

                                                                     Banda Aceh, 18 April 2016