Berbicara tentang mahasiswa mungkin tidak asing lagi di telinga kita. Dan jika di tanya apa itu mahasiswa anda pasti menjawab mahasiswa adalah sebutan untuk orang di perguruan tinggi, seorang calon sarjana atau lain sebagainya. Nah, Pengertian mahasiswa itu sendiri menurut Hartono merupakan masa depan bangsa yang bersifat mutlak memajukan bangsa dan sesuai dengan aplikasi ilmu yang dimiliki. Atau mahasiswa adalah pelajar yang sedang menuntut ilmu di perguruan tinggi.
Nah mahasiswa bukan hanya sekedar nama sebutan bagi mereka di perguruan tinggi atau seorang calon sarjana tetapi mahasiswa juga di tuntut sebagai agent of change, control social dan iron stock. Di mana mahasiswa sebagai agent of change adalah mahasiswa itu merupakan agen dari suatu perubahan bangsa yang saat ini jauh dari kata ideal. Mahasiswa tidak boleh lagi jadi pengikut namun harus tampil membawa perubahan karena masyarakat berharap banyak kepada mahasiswa dengan keintelektualitasnya. Kemudian mahasiswa sebagai control social di mana mahasiswa bukan hanya sebagai pengamat atau melihat-lihat keadaan di sekitarnya tetapi mahasiswa juga dituntut sebagai pelaku dalam masyarakat. Karena tidak di pungkiri lagi mahasiswa merupakan bagian dari dalam masyarakat itu sendiri. Dan yang terakhir mahasiswa sebagai iron stock, di mana mahasiswa diharapkan mampu menjadi manusia tangguh yang memiliki kemampuan dan akhlak mulia agar dapat menjadi penerus generasi-generasi bangsa mendatang.
Membahas mahasiswa juga tidak terlepas dari kata Globalisasi. Di zaman sekarang siapa yang tidak tahu apa itu globalisasi. Globalisasi itu sendiri adalah universalitas, hilangnya batas antar negara. Di mana globalisasi itu sendiri di tandai dengan kemajuan di bidang teknologi, komunikasi, transportasi dan lain sebagainya. Globalisasi itu sendiri memiliki dampak psitif dan negatif, di antaranya dampak positif kita dapat menerima informasi dengan cepat dan bergerak dengan cepat. Maksudnya informasi apa saja kita bisa peroleh dengan cepat melalui handphone, internet, dan lain-lain. Sedangkan bergerak dengan cepat, kita tidak perlu pergi ke suatu tempat dengan berjalan kaki. Melainkan kita bisa pergi menggunakan alat transportasi yang begitu canggih seperti pesawat, kapal, mobil, sepeda motor, kereta api dan lain-lain. Itulah beberapa keuntungan dari globalisasi. Dan ternyata bukan hanya dampak positif saja yang ada, tetapi dampak negatif dari globalisasi itu juga memiliki dampak yang luar biasa bagi masyarakat. Bahkan mampu menghipnotis masyarakat sehinnga terlena. Mungkin kita tidak sadar bahwa kita sekarang sedang di jajah melalui virus 4 F yaitu Food, Fasion, Fun, and Film. Mereka menjajah kita melalui ke empat virus itu. jika kita lihat makanan dari luar begitu banyak masuk ke indonesia bahkan ada di mana-mana. Dan tidak kita pungkiri lagi salah satunya adalah Aceh. Makanan seperti Kebab atau KFC ada di mana-mana. Mahasiswa tidak akan gaul atau ngetren jika tidak makan kebab atau KFC, kalau memakan Kue Timpan atau yang lainnya nanti di bilang jadul!. Jika di suruh memilih antara Kebab dengan kue Timpan rata-rata akan memilih Kebab. Padahal makanan Aceh lebih enak dari itu semua. Dan tanpa kita sadari kita sudah menghilangkan salah satu cirikhas Aceh yang seharusnya kita banggakan tetapi kita malah memilih makanan luar yang tidak seharusnya.
Virus kedua yaitu Fasion. Kalau membahas masalah Fasion mahasiswa adalah juaranya. Jaman sekarang tidak pakai fasion yang tren, lah ketinggalan zaman!! Perkataan itu mungkin sudah berulang-ulang kali di ucapkan. Namun mereka tidak sadari Fasion seperti apa yang mereka pakai? apakah sesuai dengan kondisinya? Pakaian pembalut atau menutup auratkah? Tetapi hal seperti ini rata-rata mahasiswa seolah-olah tidak mahu tahu padahal mereka tahu. Kita tinggal di Aceh, cara berpakaian memiliki aturan tidak hanya membalut badan tapi harus menutup agar tidak di hinggapi lalat-lalat jahat. Tetapi coba perhatikan di sekitar kita, cewek-ceweknya kalau tidak pakai celana ketat tidak gaul, kalau tidak pakai baju yang ketat nanti tidak langsing. Pakai jilbab kalau tidak di ikat keleher nanti tidak seksi. Untuk apa itu semua kalau diri sendiri yang rugi. Bahkan pergi kemana-mana fasionnya harus berbeda-beda. Pergi kepantai kalau pakai gamis nanti di bilang pergi kepengajian. Pergi ke mall pakai baju yang begini, pergi kuliah harus pakai fasion yang ini. astakfirullah.. tanpa kita sadari kita juga sudah menghilangkan salah satu cirikhas Aceh yang seharusnya cara berpakaiannya tidak seperti itu. Inilah manusia yang sudah terhipnotis dan terlena oleh budaya luar.
Virus yang ke tiga adalah Fun. Maksudnya hiburan di sini seperti pacaran, pergi jalan-jalan yang tidak bermanfaat, selfi-selfi atau yang lainnya. Tujuan mahasiswa pergi dari kampung untuk kuliah demi meraih cita-citanya, bukan malah pacaran ke sini. Jaman sekarang jomblo waduh ngak laku-laku ya? Kata-kata seperti ini sudah biasa kita dengar. Apakah kita tidak berfikir dengan pacaran kita bisa lalai dari tujuan utama. Patah hati, kuliah terbengkalai! pacaran cowoknya tidak berduit cewek mah mana mau ? Demi pacaran rela tidak makan satu bulan, lah iya uangnya sudah habis untuk hura-hura dan jalan-jalan! kita tidak memikirkan bagaimana orangtua di kampung yang bercucuran mengeluarkan keringat demi kita di sini.
Jalan dikit selfie, mundur sedikit selfie, mereng dikit selfie. Seperti Sahrini saja maju mundur, maju mundur selfe. Tanpa selfi rasanya kek gimana gitu! Inilah salah satu penyakit yang sudah melekat dalam tubuh mahasiswa. Sehari saja tidak selfie galaauu!! Dan tanpa di sadari, kita juga sudah terhipnotis. Budaya barat berhasil membuat kita terlena oleh itu semua. Jika keadaan sekitar kita seperti itu jangan terlalu mudah terpengaruh, tetap kita harus memiliki Filter agar semuanya tidak langsung masuk dalam diri kita. Kita harus menyaringnya mana yang baik dan mana yang buruk.
Virus yang keempat yaitu Film. Jika membahas tentang film mungkin tidak akan ada habis-habisnya. Film di Indonesia ada empat yang sering di tampilkan, pertama Bollywood, Hollywood, Mandarin atau Cina dan yang terakhir Indonesia. Kita lihat sekarang begitu banyak film-film yang tidak sesuai dengan klasifikasinya. Berapa jenis film yang masuk ke dalam negeri seperti konten-konten dewasa yang bahkan sama sekali tidak di sensor. Bagi kita seorang mahasiswa mungkin sudah bisa memilah-milah ini baik dan ini tidak baik. Lah kalau anak-anak mereka mana tahu ini baik dan tidak baik. Mereka itu masih kecil yang harus di bimbing. Dan tanpa kita sadari moral anak bangsa telah di kotori oleh film-film yang tidak bermoral. Generasi penerus bangsa sedikit demi sedikit mersot dan hancur begitu saja. Kalau sudah begini Bagaimana bisa maju kalau jalan menuju kesuksesannya saja sudah rusak. apakah kita hanya diam saja.
Sebagai mahasiswa kita boleh ikut sistem, tetapi jangan sampai tersugesti atau teracuni oleh sistem. Mahasiswa harus selalu berlatih untuk bisa lebih peka terhadap keadaan di sekitarnya. Dan kita harus memiliki prinsip ABC yaitu Ambil yang baik, Buang yang buruk, Ciptakan yang baru. Apapun perubahan yang terjadi di sekitar kita, jika kita memiliki prinsip ABC maka kita tidak akan mudah terpengaruh oleh itu semua. Sebab kita memiliki filter yang tidak mudah di tembus oleh Virus-virus yang dapat membunuh. Dan mahasiswa tidak boleh lagi jadi pengikut namun harus tampil membawa perubahan karena masyarakat berharap banyak kepada mahasiswa dengan keintelektualitasnya.
Banda Aceh, 18 April 2016