Rabu, 13 September 2017

CERPEN "Buat Ayah"







Engkau menyeka peluh yang kian bercucur. Menikmati panas terik yang kian menyengat. Ayunan langkahmu tak kian pudar. Dikau terus berjalan dengan semangat. Menunjukkan pada dunia, dikau seseorang yang kuat. tak pernah lelah, tak pernah menyerah, walau  dikau membawa seribu beban di pundak.

Kusebut dirimu “Ayah” pria pertama yang telah berhasil memikat hatiku. Pria yang memberikan pengorbanan tanpa pamrih. Memberikan cinta tanpa balasan. Dikaulah kusebut “Ayah” pria dengan kasih sayang yang tulus. Dirimu tak seperti pria yang kukenal, ketika pria lain mulai menyakitiku, “Ayah” datang dengan seribu penguatan. Itulah cerita kenapa aku teramat sayang padamu. 

Engkau menyeka air mata dibelakangku. Lalu tersenyum di depanku. Tapi, malam itu saat kuberikan sedikit kebahagiaanku. Dikau tersenyum dan berbulir air mata. Serak suaramu menyahut ujaranku. aku tahu, dikau sedang menangis. Jika kumampu mengulurkan tanganku saat itu, tak kan kubiarkan air mata itu terurai. Tak pantas air mata itu terjatuh padaku, belum  saatnya dikau tersenyum atas sedikit kebahagiaanku. 

Nanti..

Di penghujung bulan, entah itu kini, mungkin pula entah kapan, telah kusiapkan buah tangan seindah angan diusia beliaku dipangkuanmu dulu. Buah tangan yang dibingkis dengan balutan kesuksesan dari putri kecilmu itu. tak lebih dan tak banyak, mungkin hanya sekedar semangat atas perjuanganmu membesarkanku. Tapi, hadiah itu ikhlas dan murni dari hasil kerja kerasku. Tak kusia-siakan peluhmu padaku. Tak kusia-siakan jerih payahmu padaku. Karena engkau adalah hal yang teramat berharga bagiku. Aku mencintaimu, Ayah. Selamanya dirimu akan bersemayam dalam hatiku.


Banda Aceh, 14 September 2017

Rika Wati

PUISI SEDIH "Dermaga Impian"





Cintaku padamu tak semudah yang kubayangkan.
Riak ombak terus menghantam nahkoda cinta kita
Seakan tak mengikhlaskan kita tuk berlabuh
Menerjang segala rasa untuk saling menjauh

Tak putus asa diriku
Menanti penghujung cerita
Entah, aku dapat bersamamu?
Dan bila semua tak seperti harapanku
Kau tetap terkenang jauh di lubuk hatiku,

Pernah terucap janji dulu bersamamu
Bersatu dalam lafaz kehalalan
Merajut sulam cinta dalam kerinduan
Namun, berakhir dengan perpisahan

Biarlah asa kita berlabuh bersama yang lain
Walau sempat berharap berlabuh di dermaga impian kita
Engkau telah memutuskan
Dipenghujung tahun ini,  
Dikau resmi menutup hati bersama yang lain.

Kini..
Cerita cintaku berakhir tanpa kepastian
Engkau memutuskan pergi bersama dia
Walau tanpa nota kau berikan

Bersama penantianku
Kumerelakan nahkodamu berlabuh bersama yang lain
Lepaslah segala anganku bersamamu
Lepas dan pergi bersama kenangan di dermaga impian yang lain.


Banda Aceh, 13 September 2017

Rika Wati



Kamis, 27 Juli 2017

Tanpa Mereka, Aku Tiada!


Aku adalah seorang putri dari pasangan suami istri yang hidup dalam berkecukupan. Terlahir dengan keadaan yang sangat memprihatinkan. Saat aku kecil, aku lahir dalam keadaan premature. Melihat berat tubuhku yang tidak mencukupi, kedua orangtuaku merasa sedih dan terluka. Hari-hari kulalui tanpa setes ASI. Dokter memponis diriku sulit untuk hidup. Orangtuaku mendengar kabar itu menjadi tak berdaya. Anak yang mereka nantikan kehadirannya tak dapat hidup bersama mereka.

Hari-hari tubuhku mulai menurun. Dokter pun mulai putus asa dengan keadaanku. Wajah kedua orangtuaku, begitu terluka dan kecewa. Hari-hari mereka selalu disisiku. Melihat wajah merah yang tertutup dalam tabung. Setes air mata mengalir dari wajah ibuku. Ia menangis,Ia ingin menggengam tangan mungilku. Ia ingin merengkuhku dalam pelukannya. Tapi, Apalah daya, ketika bayi kecil itu tak dapat merasakan hangatnya pelukan seorang ibu.

Ayah disebelah ibu, menatapku dengan mata berkaca-kaca. Sembilan bulan yang ia nantikan bersamaku, menjadi masa sulit untuk dilalui. Apalah dayaku, ketika kedua ibu dan ayahku menitihkan air mata kepadaku. Aku bayi mungil primatur, Cuma dapat diam menutup mata. Aku ingin mengatakan betapa aku ingin merasakan Asi. Betapa aku ingin berada dalam dekapan mereka. apalah dayaku, bayi mungil yang tak berdaya.

Ketika dokter datang, dia menyuruh ibuku pergi meninggalkanku. Inginku meminta lebih.. lebih lama berada bersama mereka. apalah dayaku, ketika dengan mata tertutup mereka pergi meninggalkanku. Aku tahu, rasa tak ingin pergi dariku ada dalam hati mereka. tapi, mau bagaimana lagi. Dokter berbaju putih itu memaksa mereka menjauhiku.

 Tiga puluh  hari telah kulalui dari kalimat ponis tentang kematianku. Dokter itu berkata, ternyata Tuhan masih menyayangiku. Tuhan menyayangiku dan memberikan kesempatan bersama kedua orangtuaku. Ternyata, Tuhan masih membiarkanku bernapas walau terasa sulit. Betapa aku bersyukur, bayi kecil primatur ini masih diberikan kesempatan untuk hidup.

Kini, suara lembut dari ibu yang telah melahirkanku mulai terdengar ditelingaku. Pelan-pelan, mata kecil yang telah lama tertutup, kini mulai terbuka. Mata yang telah lama terpejam, akhirnya dapat melihat kedua Ibu dan Ayah yang amat menyayangiku. Hal pertama yang kulihat adalah ibu dan ayah di sisiku. Dengan suara tangis cemprengku mengejutkan kedua orangtuaku. Aku menggeliat dan menangis dalam rengkuhan hangat ibuku. Bibir ibu menciumku dengan mata berkaca-kaca. Ibu menitihkan air mata bahagia melihat diriku, bayi kecil primatur.

Kini, aku mulai besar. Umurku hampir menginjak Empat tahun. Kata ibu aku begitu lincah, berlari kian kesana kemari. Seringkali kelincahanku membuat ibu kualahan. Terkadang ia mengehela napas berat. Tak mudah menjaga anak kecil seumuran denganku. Anak yang tidak pernah mengenal kata lelah. Berlari, berlompat, berteriak, meronta, menagis, mengambek, marah dan segala emosi tercipta padaku. Aku tak peduli dengan wajah ibu yang kelelahan, selagi aku tidak puas, aku tak ingin berhenti bermain. Selagi aku tak suka, aku tidak berhenti meronta. Jika aku menginginkan sesuatu, aku terus berteriak agar ibu dan ayahku memberikan apa yang kuinginkan.

Seringkali, ayah menatapku tersenyum. Wajah lelahnya sehabis pulang bekerja, tak membuatku kasihan. Aku terus memaksakan kehendakku membeli apa yang kuinginkan. Ayah yang sangat menyayangiku, dengan manja mengiyakan permintaanku.

Saat itu, sewaktu hujan turun lebat. Aku berdiri menunggu ayah pulang di pintu. Kemarin, ayah telah berjanji membelikanku mainan. Aku tersenyum ketika dari pandangan jauh ayah mulai mendekat. aku melihat ayah pulang berlari dengan baju basah menutupi tubuhnya. Mata kecilku, mengamati tubuh ayah. Ia terlihat lelah dan kedinginan. tapi aku tak perduli, aku terus memaksa diberikan mainanku. Ayah tersenyum kepadaku. Senyum yang tak dapat kumengerti. Mainan yang kuinginkan, ayah serahkan dengan plastic yang basah.

Aku amat bahagia. Akhirnya, mainan yang kuinginkan dapat kumiliki. Aku berlari, berlompat kian kemari. Sungguh aku teramat bahagia. Walau tak peduli dengan tubuh ayah yang basah kuyup. Pagi itu, aku menagis berteriak. Mainan yang ayah belikan padaku  menjadi rusak karena kecerobohanku. Mainan yang kuinginkan tak bertahan lama. Aku meronta kpada ibu dan ayah agar dibelikan mainan baru untukku. Ibu terlihat menghela nafas berat, aku tahu Ia ingin menagtakan uang kita belum cukup beli mainan. Tapi, apalah aku. anak kecil yang tidak mengerti hal seperti itu.

Sebelum mainan kudapatkan, aku terus berteriak. Meronta, marah-marah. Ayah yang saat itu kurang sehat, datang menghampiriku. Ia mengatakan akan memebelikan maian  baru buatku. Aku anak kecil yang masih kecil, menunjukkan rasa senang kepada ayah. Walau aku tidak mahu tahu dari mana ayah mendapatkannya.

Waktu terus berlalu, kini aku mulai meranjak remaja. Masa-masa diusiaku, sangat terlalu labil dengan perasaan. Aku sering ngambek, sering marah bahkan mering berteriak kepada ibu dan ayahku. Pernah sekali, saat aku ingin pergi ke sekolah. aku Cuma diberi uang jajan yang tidak sesuai dengan keinginanku. Aku marah-marah, berteriak untuk diberikan uang lebih dari itu. Ibu yang saat itu kurang sehat, dengan mata berkaca-kaca ia memelukku erat. aku anak remaja telah diselimuti amarah, semakin memberontak. Aku tidak ingin pergi ke sekolah. aku tidak ingin belajar. aku tidak ingin menjadi anak mereka.

Apalah dayaku, saat ibu memanggilku.. dengan rasa tanpa bersalah, aku pergi meninggalkan ia dengan air mata luka. Saat itu, aku pergi keluyuran, aku tidak ingin pulang. Aku lebih memilih tinggal di rumah sahabatku. Seharian ibu dan ayah mencari keberadaanku. Hingga senja mendera, akhirnya mereka menemukanku. Ayah dan ibuku ingin marah saat itu. tapi, mereka yang amat menyayangiku Cuma dapat menghela napas panjang terhadapku.

Hari itu, adalah hari perpisahan di sekolahku. Teman-temanku menyuruhku memakai baju seragam perpisahan kami. tapi aku tak punya uang, tiba di rumah, aku meminta uang tanpa berpikir dari mana ibu dan ayah mendapatkannya. Lagi dan lagi, ayah dan ibu yang amat menyayangiku, dengan senyum mengiyakan keinginanku. Aku tahu, saat itu kedua ibu dan bapakku sedang tidak memeliki uang. Tapi, aku yang sangat ingin membeli baju itu tak memikirkan mereka.

Seringkali, aku membantah perkataan mereka. kata “ah” tak dapat kuhitung lagi mengalun dari bibirku. aku selalu melawan, marah-marah tanpa sebab kepada kedua ibu dan ayahku. Saat itu, saat aku lulus sekolah menengah atas. aku meminta lebih yang tak dapat ibu dan ayahku mengabulkannya. Aku meminta agar ibu dan ayah menguliahkanku. Aku ingin kuliah seperti teman-temanku yang lainnya. aku sangat malu, jika aku tidak dapat seperti mereka yang pergi melanjutkan pendidikannya.

Ayah yang saat itu sakit parah, mencoba memintaku untuk menyembunyikan keinginan itu untuk sementara waktu. Ayah mengatakan, ia belum cukup punya uang akan hal itu. aku anak remaja yang tak tahu kata penolakan pun melemparkan kata-kata yang tak sepatutnya kuberikan buat mereka. aku tidak ingin mengerti dengan kondisi ekonomi keluargaku di bawah rata-rata. Aku terus meminta untuk dikuliahkan. Aku terus meminta agar keinginanku diwujudkan.  Hingga akhirnya, seminggu setalh kejadian itu, ibu datang menghampiriku dengan wajah tersenyum. Ibu membelai kepalaku seraya memberikanku uang untuk melanjutkan pendidikanku. Saat itu aku sangat bahagia, ternyata ibu dan ayah masih menyayangiku.

Tidak terasa, bumi terus berputar. Aku pun tidak kecil lagi. Kini aku hampir meranjak dewasa. Umurku tidak dikategorikan anak kecil atau remaja lagi. Dan tidak terpungkiri perubahan terlihat jelas di wajah kedua orangtuaku. Rambut ibu yang dulu hitam gelap, kini mulai ditumbuhi rambut putih. Dulu, kulit ibu yang kencang, kini muali keriput. Tak terpungkiri, ayah pun sama. Tubuh ayah kian kurus. Tangan dan kakinya mulai memutih termakan usia. Ayahku yang bekerja dalam rawa-rawa membuat kaki dan tangannya terkelupas.

Aku baru tahu, dan aku baru sadar. Diumurku yang meranjak dewasa ini, aku baru mengerti. Aku baru mengerti betapa amat mereka menyayangiku. Aku yang dulunya bayi kecil kini telah besar. Anak yang dijaga ketat oleh kedua orangtuaku. Pernah dulu, kejadian beberapa tahun silam. Saat itu ayah pernah marah, ia teramat marah ketika tahu aku pacaran. Tak pernah aku melihat dia semarah itu kepadaku. Aku yang tidak mengerti maksud amarah itu, berlari memeluk ibu berharap mendapat pembelaan padaku. Ibu diam mengacuhkanku.

Saat itu, aku merasa, kedua orangtuaku tidak sayang lagi padaku. Mereka tidak mencintaiku lagi. Mereka bahkan telah marah kepadaku. Aku yang dulunya anak remaja, pergi dengan hati yang kecewa dan air mata luka.

Bila kuingat hal itu, aku baru mengerti sekarang. Ternyata, ayah dan ibuku teramat sayang kepadaku. Ia takut jika aku terjerumus kedalam jalan itu. ia takut jika aku terluka nantinya. Kini aku mengerti, sikap overprotektif kedua ibu dan ayahku demi kebaikan diriku. ia menjagaku seperti mutiara dalam lautan. Ia takut jika kilau ku ternodai. Ia takut mawar merah sepertiku dipetik oleh orang lain. Aku baru mengerti, betapa mereka sayang terhadap diriku.

Kini, aku bersujud di bawah kaki mereka. aku bersimpuh memohon ampun atas segala kelakuanku selama ini. terlalu banyak luka dan kecewa yang kuciptakan. Terlalu banyak air mata terhadap diriku. aku minta maaf. Akankah diriku dapat diampunkan? Kini.. hanya satu keinginan terbesarku. Satu keinginan yang ingin kuwujudkan. Aku ingin membahagiakan kedua ayah dan ibuku di usia senjanya. Aku ingin memberikan seluruh hidupku bagi mereka. karena aku baru tahu, kedua pintu surga itu terletak bagi ibu dan ayahku. Aku terus berdoa, moga ibu dan ayah di sayang Allah.

Inilah kisahku, semoga kita dapat mengerti arti kasih sayang orangtua terhadap kita. Segala yang ia lakukan demi kebaikan dan kebahagiaan kita. Semoga, Allah senantiasa berada dalam ridho kedua orangtua kita. Insya Allah.  

----------
@027rrikaajaa

Senin, 15 Mei 2017

BUAH DARI KESABARAN






Oleh: @027rikaajaa
“Aku percaya jodoh itu ada, sebab aku percaya Allah itu ada. Aku percaya jodohku ada, sebab aku percaya Tuhan itu ada.” Begitulah untaian kata-kata yang terus mengalir dari bibir Siti Aminah.
***

Namanya Siti Aminah, biasanya kerap di panggil Siti. Perempuan yang telah berusia hampir genap berkepala empat itu. kini Allah sedang menguji kesabaran dan keimanannya. Sampai saat ini, di usianya yang semakin tua, Siti belum jua menemukan pasangan hidupnya. Siti belum menemukan jodohnya. Para tetangga pun terus berbisik-bisik, “Betapa sayangnya si Siti itu sampai sekarang belum menikah juga. Sudah lama menjadi perawan tua.” Begitulah selalu gunjingan para tetangga kepadanya. 

Namun, Siti terus berusaha untuk tetap bersabar. Ia tahu, Allah sedang mengujinya. Hari-hari pun terus berlalu, kini bukan hanya para tetangga yang membicarakannya. Saudara serta keluarganya pun semakin mendesak Siti untuk menikah dengan seseorang. Orangtuanya terus mendesak Siti untuk menikah dengan piliha ibunya. Siti yang sangat penurut terhadap orangtuanya pun hanya diam saja. ikhlas dengan keadaan.

Tiba saatnya, seseorang pria datang menemuinya di rumah itu. betapa teramat sangat bahagia orangtuanya Siti, mereka berharap pria itu ingin menikahi anaknya . orangtua Siti merasa sangat malu selalu mendengar kasak-kusuk tentang putrinya yang tak kunjung menikah. Siti yang memakai baju biasa dan kerudung panjang sepinggangnya pun duduk di sisi kedua orangtuanya. Sedari tadi pandangan pria itu terus menatapnya. Entah tatapan mencemooh, Siti pun tidak mengetahui hal itu.
“Maaf  bapak, buk.. saya tidak dapat menikahi putri bapak. Putri bapak sudah terlalu tua buat saya. saya masih terlalu muda memiliki istri seperti dirinya.” Begitulah kalimat menusuk yang tertuju kepada Siti. Siti yang mendengarnya pun hanya diam terus mencoba bersabar. Pria itu pun pergi meninggalkan mereka dalam keadaan sedih. 

“Kenapa kamu begitu sial, Siti?? Ibu sangat malu..” Ucap Ibunya Siti berlinang air mata. Siti hanya dapat menunduk berusaha menahan air matanya yang terus ingin mengalir. Bapak Siti, hanya dapat menghembuskan nafasnya, dan berlalu meninggalkan Siti seorang diri dalam keadaan diam. 

Kini, bisik-bisik tetangga semakin menjadi-jadi. Di tambah beberapa pria yang terus kembali dan tidak ingin melamar Siti sebeb mengatakan Siti perempuan tua. Orang-orang terus semakin bergunjing dan tidak pernah tahu akan perasaan Siti yang teramat sangat terluka dengan kalimat-kalimat mereka. Siti terus berdoa semoga Allah memberikan jodoh kepadanya. Siti tetap istiqomah dan terus berikhtiar kepada Allah. Setiap malam, setiap sepertiga malam Siti terus terbangun dan memohon kepada Allah semoga dirinya di berikan jodoh yang terbaik kepadanya. 

“Ya Tuhan.. aku percaya sebab engkau telah berkata setiap manusia pasti memeiliki jodoh. Dan aku sangat percaya sebab engkau tidak mungkin berdusta. Hanya saja, engkau masih menunggu memberikannya kepadaku. Aku tahu, sebab Engkau masih ingin melihat kesabaran dan keimananku. Tidak mengapa Ya Tuhanku.. tidak mengapa selagi Engkau selalu di sisiku. Tidak mengapa selagi Engkau masih menyayangiku. Satu pintaku, berilah kesabaran untukku agar tetap Itiqomah di hadapanmu.” Begitulah seruan Siti dalam doa sholat malamnya. 

Dalam perkumpulan keluarga besar Siti, semua orang menyebut namanya. kalimat demi kalimat terus tertuju kepada Siti. Kini, Siti tidak hanya dibicarakan di masyarakat, tetapi dalam keluarga besarnya pun terus membicarakan tentang dirinya. Siti yang saat itu sedang duduk di sisi mereka, memutuskan pergi menjauh berusaha tetap menerima dan terus tersenyum. 

Di dapur, ia berusaha masih tersenyum. Setiap kali hatinya terluka, ia selalu mengingat kebesaran Allah. Bibirnya terus berzikir kepada sang pencipta dikala orang terus membicarakannya. Namun, Siti hanya seorang wanita biasa, kapan pun ia dapat menangis sebab teramat terluka dengan omongan tajam kepadanya. 

Waktu terus berlalu, kini Usia Siti telah genap Empat Puluh tahun. Ia telah lelah dengan bisik-bisik tetangga terhadapnya, mulai lelah mendengar desakan orangtuanya yang terus memaksa Siti untuk menikah. Tapi, dengan siapa dia menikah. Tiada seorang pun pria yang ingin menikahi dirinya.  Hingga di suatu ketika, tepatnya malam Jumat, tatkala Siti terus mengalunkan Surat Al-Kahf di malam penuh berkah itu. hingga suara ketukan terdengan dari luar pintu rumahnya.

Ibunya yang saat itu tidak jauh dari ruang tamu pun membukakan pintu itu. Hingga terlihatlah seorang pria yang datang menghampiri rumahnya dengan maksud bersilaturahmi. Lama Ibu Siti tertegun melihat pria yang teramat tampan dan gagah nan tinggi berdiri tegap di depan rumahnya. Orangtuanya pun mempersilahkannya masuk. 

“Siti, buatkan minuman…” Suruh ibu Siti tatkala Siti telah menyelesaikan Surah Al-Kahf-nya. Ayah Siti yang baru datang dari Surau pun ikut duduk bersama Ibunya Siti. Di hati mereka tidak sedikitpun terbesit maksud kedatangan pria itu di malam seperti ini. sebab, orangtuanya Siti telah pasrah dengan keadaan. Tidak berharap apa pun lagi untuk putrinya. 

Siti yang datang dengan membawa secangkir kopi pun menghidangkannya ke pada pria itu. pandangannya terus menunduk, tanpa ingin menoleh siapa tamu yang datang. Siti masih menjaga pandangannya. Setelah ia menghidangkan minuman itu, ia pun kembali masuk dan bersandar di balik tirai pembatas antara ruang tamu dengan dapur. 

Sesaat Siti mencoba mendengarkan pembicaraan orangtuanya di ruamg tamu. Dan seketika tubuh siti terus bergetar tatkala kata lamaran mengalir dari bibir Pria yang datang ke rumahnya. Siti tak kuasa untuk tidak menangis. Tubuhnya pun ikut luruh sebab tidak percaya akan hal ini kepadanya. Siti sujud Syukur sebab Allah telah mengabulkan doa-doanya selama ini. Allah telah menunjukkan kebesarannya. Siti percaya bahwa Allah selalu berada disetiap hambanya yang sabar. Siti terus menangis berharap semua ini bukanlah sebuah mimpi. Orangtua Siti pun memanggil namanya ke ruang tamu. Siti yang masih menitihkan air mata pun dengan cepat mengusap air matanya. Tiba di ruang tamu, jantung Siti terus berdebar, ia takut dengan sekejab hati pria itu berubah kepadanya. Ia takut pria itu menarik kembali kata-katanya.

Siti duduk di anatara kedua orangtuannya. Sekilas pria itu memandangnya lalu kembali membuang pandangannya kepada orangtua Siti. “Saya akan menikahi anak bapak.” Begitulah kalimat yang mengalir dari pria itu. Siti yang mendengarnya pun kembali bersujud syukur kepada Allah. Ternyata pria itu ingin menikahi dirinya. Ternyata pria yang gagah tegap itu ingin menjadikannya sebagai istri. Ternyata pria itu ingin menjadikannya sebagai pendamping hidupnya , perempuan tua yang sering di gunjing orang. Orangtua Siti pun tak kuasa terus menangis. Mereka menitihkan air mata bahagia, akhirnya putrinya yang sering menjadi omongan akhirnya menikah. Menikah dengan pria yang amat tampan. Menikah dengan pria yang sangat darmawan. Menikah dengan pria yang sangat kaya. Menikah dengan pria yang memiliki hati yang mulia.

Tibalah hari pernikahan Siti dengan Ahmad, pria yang saat itu datang mempersuntingnya. kini mereka telah bersanding bagai putri-raja. Kini, mulut-mulut yang terus terbuka mengeluarkan kalimat-kalimat tak sedap, akhirnya tertutup rapat. Orang-orang yang sering kali bergunjing di belakang Siti akhirnya terkunci dan bungkam saat menyaksikan pernikahan Siti yang sering kali mereka sebut perawan tua.

Mereka tidak mengerti bahwa Allah dengan mudah menunjukkan segalanya. Mereka terlupa bahwa masih ada Allah yang dapat melakukan segalamya. Mereka lupa, Bahwa Allah-lah yang memiliki dunia ini. mereka melupakan dan terus menikmati perbuatan mereka yang sangat tidak baik.

Kini, usia pernikahan Siti dengan Ahmad telah genap Dua tahun. Namun mereka pun belum kunjung dikaruniai seorang bayi. Ujian di keluarganya masih terus di uji oleh Allah. Sampai saat ini, mereka belum mendapatkan anak. Siti belum jua hamil. Setiap kali ia memeriksakan kondisinya ke dokter selalu mengatakan tidak ada. Keluarga itu terus berusaha dan berdoa agar Allah memberikan kehadiran seorang  anak di usianya yang semakin Senja. Mungkin, di mata manusia sangat mustahil di usia mereka yang hampir senja dapat memiliki anak. Anak yang menjadi pelengkap dalam sebuah keluarga. Tanpa seorang kehadiran buah hati, kehidupan ruamah tangga terasa tidak lengkap. Begitulah perasaan yang di rasakan pasangan suami-istri itu. 

Waktu terus berlalu, bibir-bibir yang dulunya telah terkunci rapat, kini kembali terbuka. Mengalirlah kembali kata demi kata yang menusuk bagi keluarga itu. mengalunlah kembali kalimat demi kalimat yang sangat menaykitkan bagi pasangan itu. orang-orang tersebut belum jua tersadar. Selalu mereka membicarakan hal-hal yang tidak semestinya mereka bicarakan. Sungguh bibir itu belum jua bungkam dan belum sadar atas kebesaran Tuhan Yang Maha Esa.

Saat itu, bertepatan hari libur. Siti bersama suaminya berkeunjung ke ruamh orangtuanya yang telah sebulan ini tidak mereka kunjungi. Setiba di rumah, mereka menyalami kedua orangtuanya dan terus memancarkan aura kebahagiaan. walau belum dikaruniai seorang buah hati. tapi, Siti bersama suaminya terus tetap bersyukur. Sebab mereka paham betul, Allah itu ada dan pasti mengabulkan doa-doa mereka. hanya saja, belum saatnya Allah mengulurkannya. Beberapa hari menginap di rumah orangtunya, akhirnya mereka memutuskan kembali sebab Ahmad suaminya memiliki pekerjaan yang harus ia jalankan. 

Seperti biasa, saat suaminya pergi bekerja, Siti terus tetap istiqomah dan berdoa kepada Allah semoga doa-doanya dijamah oleh Allah Subahanallahu ta’ala. Dan Siti pun berencana memeriksakan keadaanya  ke dokter berharap berita bahagia yang ia terima. Namun, kembali kata tidak yang dia dengar dari dokter tersebut. Hanya air mata saja yang terus mengalir dari mata Siti. Ia telah Ikhlas dengan keadaan. Bagaimana pun, jika Allah belum memberikannya mau menginginkan sebesar apapun jua tetap tidak ada. 

Semenjak itu, Siti tidak lagi pergi memeriksakan kandungannya. Sebab ia tahu kata dokter itu hanya tidak. suaminya pun telah Ikhlas dengan keadaan. Walau Allah belum mengizinkan mereka menjadi orangtua, namun setiap sepertiga malam pasangan itu selalu terbangun dan bersujud memohon kepada Allah semoga masih diberikan kesempatan itu kepada mereka. 

Hari-hari pun kembali tarsus berlalu, kini Siti tidak bersedih lagi. Ia memutuskan mengadopsi seorang anak dari pantai asuhan. Kesehariannya terus mengurus suami dan anak angkatnya yang bernama Sarah. Sering kali juga mereka mengunjungi panti asuhan tempat Sarah dibesarkan dan tidak sedikit pasangan itu memberikan sumbangan untuk anak-anak yatim piatu di panti itu.  Ahmad pun mulai merasa bahagia sebab rumah mereka mulai terdengar tawa istri dan anak angkatnya itu. keluarga mereka pun terasa sudah lengkap walau Sarah anak kecil itu bukan anak kandung dari hubungan mereka.

Suatu ketika, Siti merasakan perubahan pada dirinya. Kepalanya sering pusing. Sesekali pandangannya berkunang-kunang. Siti teramat takut penyakit apa yang menderanya. Seringkali rasa sakitnya ia sembunyikan dari suaminya. Ia takut Ahmad kahawatir dengan keadaannya. Sarah yang selalu menemaninya pun mulai jarang berada di sisinya, sebab Sarah telah beranjak berumur tujuh tahun. Sarah pun jika di pagi hari serta siang berada di sekolah. 

Kepala Siti semakin menjadi teramat sangat sakit. perutnya terasa sakit dan sesekali mual mendera dirinya. Ia pun memutuskan pergi ke rumah sakit yang telah lama tidak ia injak. Tanpa minta izin dari suaminya, ia pun pergi. Setelah pemeriksaan dilalukan oleh dokter kepadanya. Lama dokter  itu tertegun. Lama dokter itu terdiam. Siti pun yang melihat perubahan di wajah dokter itu pun mulai menerka-nerka penyakit apa yang telah menghinggapinya. 

“Apakah saya sakit parah, dokter??” tanya Siti takut-takut mendapat kabar yang membuat hatinya terluka. Dokter yang ia tanya pun tak kunjung menjawab. Dokter itu malah menitihkan air mata. Siti pun dihampiri katakutan yang amat parah. Tentulah ia mengatakan bahwa dirinya mengidap penyakit yang sulit disembuhkan. Begitulah isi pikiran Siti saat itu.

“Berapa usianya, Ibuk??” tanya dokter itu pelan. Siti yang sudah curiga pun menjawabnya pelan, “Empat puluh tiga tahun, dokter.” Dokter itu pun semakin terpaku seraya menggelengkan kepalanya. “Selamat Ibuk, akhirnya keinginan terbesar ibu telah dikabulkan oleh Allah. Usia kandungan Ibuk telah genap dua bulan.” Jelas dokter itu terus tersenyum sambil menitihkan air mata. 

Siti yang mendengarnya pun tertegun. Bagaikan mimpi ucapan dokter itu kepadanya. Siti pun tak kuasa menangis sejadi-jadinya. Ia menangis ternyata Allah masih memeberikan kesempatan baginya menajdi seorang ibu. Allah masih memberikan kesempatan kepadanya menajdi seorang istri sempurna buat suaminya. Ternyata Allah masih memberikan kesempatan baginya merasakan seorang perempuan yang sempurna. 

Saat tiba di rumah pun air matanya terus menaglir. Sang suami yang mendapatinya di ruang tamu pun mulai khawatir. Telah lama usia pernikahan mereka, tidak pernah ia melihat istrinya menangsi seperti saat ini. dengan perasaan khawatir, ia pun memeluk istrinya dengan penuh kasih sayang. Siti pun kembali tak kausa untuk terus menangis. Hingga Siti menceritakan segalanya tentang kondisinya yang telah menagndung dua bulan. Sang suami pun tak jua kuasa untuk tidak menangis. Pasangan itu bersujud  syukur dan terus bersyukur tenyata semua doa-doa mereka telah di dengar oleh Tuhan Yang  Maha Esa. 

Orangtua Siti pun bergitu teramat bahagia mendengar kabar bahagia dari putrinya Siti Aminah. Sungguh orangtua Siti sangat bahagia atas segala nikmat Allah yang telah ia berikan seindah itu kepada putrinya. Kini, bibir-bibir yang sering bergunjing, akhirnya kembali tertutup rapat. Mereka akhirnya sadar, bahwa Allah itu maha besar. Orang-orang yang sering meneybut nama Siti Aminah itu akhirnya menitihkan air mata sebab terlalu merendahkan dirinya. Mereka melupakan jika Allah memiliki segalanya yang dengan mudah dapat melakukan apapun yang di luar batas pemikiran hambanya. 

Maka sudah jelas, Sesungguhnya urusan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu dan berkata “Jadilah” Maka terjadilah ia. Subahanallah.. Maha Suci Allah atas segala kebesarannya. Sebuah pasangan suami-istri yang telah melewati banyak rintangan, ternyata inilah buah dari kesabaran mereka selama ini. Ternyata Allah menunjukkan kebesarannya melewati pasangan yang selalu tawaqal dan tetap bersabar menjalani ujian yang Allah berikan. Mata yang awalnya terus tertutup dan mengabaikan segala kekuasaan Allah yang meliputi langit dan buminya akhirnya terbuka lebar dari pasangan itu.

Kini, Siti Aminah yang disebut perawan tua. Yang disebut seorang istri yang tidak sempurna. Akhirnya telah menunjukkan betapa ia sempurna. Allah memberikan sedikit kesempurnaan itu kepada dirinya hingga ia dapat menajdi seorang istri sekaligus seorang ibu. Kini. Pasangan itu telah dikaruniai anak kembar yang sangat cantik dan tampan. Siti melahirkan anak kembar dari hubungan halalnya bersama seorang suami yang selalu senantiasa terus bersamanya. Seorang suami yang menerima segala kekurangan pada dirinya. Seorang suami yang membuatnya menajdi seorang wanita sempurna. 

Itulah kisah dari wanita yang kerap disebut perempua Tua. Sebuah kisah yang mengharukan yang kerap dipanggil perawan tua. Akhirnya Allah menjadikannya wanita sempurna. Kisah  wanita yang selalu sabar dan pada akhirnya memetik buah dari kesabaran yang telah lama ia semai. kisah yang begitu banyak hikmah yang dapat dipetik di dalamnya. Siapa pun diantara kalian yang memiliki kisah seperti Siti, sungguh beruntung dikau sebab Allah teramat sangat sayang kepadamu. Tetaplah bersyukur dan istiqomah sebab tuhan itu ada. Kita ada sebab dia pun ada. Kita dapat melihat dunia yang indah sebab Dia pun ada. Maka tetaplah bersabar, Insya Allah, Allah senantiasa selalu bersama kita. Insya Allah..  [rkw]