Rabu, 13 September 2017

CERPEN "Buat Ayah"







Engkau menyeka peluh yang kian bercucur. Menikmati panas terik yang kian menyengat. Ayunan langkahmu tak kian pudar. Dikau terus berjalan dengan semangat. Menunjukkan pada dunia, dikau seseorang yang kuat. tak pernah lelah, tak pernah menyerah, walau  dikau membawa seribu beban di pundak.

Kusebut dirimu “Ayah” pria pertama yang telah berhasil memikat hatiku. Pria yang memberikan pengorbanan tanpa pamrih. Memberikan cinta tanpa balasan. Dikaulah kusebut “Ayah” pria dengan kasih sayang yang tulus. Dirimu tak seperti pria yang kukenal, ketika pria lain mulai menyakitiku, “Ayah” datang dengan seribu penguatan. Itulah cerita kenapa aku teramat sayang padamu. 

Engkau menyeka air mata dibelakangku. Lalu tersenyum di depanku. Tapi, malam itu saat kuberikan sedikit kebahagiaanku. Dikau tersenyum dan berbulir air mata. Serak suaramu menyahut ujaranku. aku tahu, dikau sedang menangis. Jika kumampu mengulurkan tanganku saat itu, tak kan kubiarkan air mata itu terurai. Tak pantas air mata itu terjatuh padaku, belum  saatnya dikau tersenyum atas sedikit kebahagiaanku. 

Nanti..

Di penghujung bulan, entah itu kini, mungkin pula entah kapan, telah kusiapkan buah tangan seindah angan diusia beliaku dipangkuanmu dulu. Buah tangan yang dibingkis dengan balutan kesuksesan dari putri kecilmu itu. tak lebih dan tak banyak, mungkin hanya sekedar semangat atas perjuanganmu membesarkanku. Tapi, hadiah itu ikhlas dan murni dari hasil kerja kerasku. Tak kusia-siakan peluhmu padaku. Tak kusia-siakan jerih payahmu padaku. Karena engkau adalah hal yang teramat berharga bagiku. Aku mencintaimu, Ayah. Selamanya dirimu akan bersemayam dalam hatiku.


Banda Aceh, 14 September 2017

Rika Wati

Tidak ada komentar:

Posting Komentar