Engkau menyeka peluh
yang kian bercucur. Menikmati panas terik yang kian menyengat. Ayunan langkahmu
tak kian pudar. Dikau terus berjalan dengan semangat. Menunjukkan pada dunia,
dikau seseorang yang kuat. tak pernah lelah, tak pernah menyerah, walau dikau membawa seribu beban di pundak.
Kusebut dirimu “Ayah” pria
pertama yang telah berhasil memikat hatiku. Pria yang memberikan pengorbanan
tanpa pamrih. Memberikan cinta tanpa balasan. Dikaulah kusebut “Ayah” pria
dengan kasih sayang yang tulus. Dirimu tak seperti pria yang kukenal, ketika
pria lain mulai menyakitiku, “Ayah” datang dengan seribu penguatan. Itulah
cerita kenapa aku teramat sayang padamu.
Engkau menyeka air mata
dibelakangku. Lalu tersenyum di depanku. Tapi, malam itu saat kuberikan sedikit
kebahagiaanku. Dikau tersenyum dan berbulir air mata. Serak suaramu menyahut
ujaranku. aku tahu, dikau sedang menangis. Jika kumampu mengulurkan tanganku
saat itu, tak kan kubiarkan air mata itu terurai. Tak pantas air mata itu
terjatuh padaku, belum saatnya dikau
tersenyum atas sedikit kebahagiaanku.
Nanti..
Di penghujung bulan,
entah itu kini, mungkin pula entah kapan, telah kusiapkan buah tangan seindah
angan diusia beliaku dipangkuanmu dulu. Buah tangan yang dibingkis dengan
balutan kesuksesan dari putri kecilmu itu. tak lebih dan tak banyak, mungkin
hanya sekedar semangat atas perjuanganmu membesarkanku. Tapi, hadiah itu ikhlas
dan murni dari hasil kerja kerasku. Tak kusia-siakan peluhmu padaku. Tak
kusia-siakan jerih payahmu padaku. Karena engkau adalah hal yang teramat
berharga bagiku. Aku mencintaimu, Ayah. Selamanya dirimu akan bersemayam dalam
hatiku.
Banda
Aceh, 14 September 2017
Rika Wati

Tidak ada komentar:
Posting Komentar