Senin, 28 Maret 2016

Puisi "PELUH SANG AYAH"







Ayah...
dirimu bagaikan pahlawan yang selalu menjaga ku
dirimu bagaikan raja yang selalu tegas dan 
berwibawa dalam menuntun ku

Ayah...
Tanpamu aku tidak akan mengerti arti hidup yang sesungguhnya
Tanpamu hidup ini tidak berarti apa-apa..
Sedari kecil aku tidak pernah mendengar engkau mengeluh atas sikap ku..
Sedari kecil engkau selalu memberikan aku yang terbaik
Senyum yang selalu menghiasi wajahmu 
tidak pernah lupa kau berikan untuk ku
Tawa mu selalu ada untuk ku ketika aku merasa kesepian
Engkau tidak pernah menunjukkan kesedihan mu di depan ku
Kau selalu berusaha gagah dan tegar jika di depan ku
Padahal engkau menitihkan air mata di belakang ku

Ayah..
Maaf kan anak mu ini yang selalu menyakiti hati mu.
maafkan anak mu yang tidak tahu diri ini
 yang selalu mengeluh kepada mu.
Mengeluh akan kehidupan yang selalu susah, bahkan tidak memikirkan
Engkau mencari sesuap nasi untuk ku di luar sana.
Keringat yang membasahi tubuh mu..
Terik matahari yang begitu membakar kulitmu..
Air hujan yang begitu dingin..
Bahkan dinginnya subuh engkau masih rela mencarikan aku sesuap nasi.

Ayah..
Titik-titk peluh yang kau keluarkan untuk ku
Tidak mungkin dapat aku ganti dengan apapun di dunia ini
Aku tidur di rumah dengan enak dan makan enak
Tetapi Di sana kau belum makan sama sekali
Kulit tubuh ku yang selalu aku rawat
Tetapi engkau di luar sana rela terbakar oleh teriknya matahari
Kulit kaki dan tanganmu yang dulunya mulus
Tetapi kini, kaki dan tanganmu bahkan tidak tebentuk lagi
Seharian engkau di rawa-rawa sana mencari ikan 
agar keluargamu bisa membeli beras

Ayah..
Apakah aku bisa membahagiakanmu
Apakah aku bisa melihat ayah selalu tersenyum di sisiku
Apakah ayah akan selalu menemani ku samapai aku sukses nanti
Aku bahkan belum bisa menberikan apa-apa untuk mu ayah
Aku bahkan belum bisa membuat ayah bangga akan diriku
Aku hanya bisa mendoakan agar ayah tetap sehat dan selau kuat.
Aku hanya bisa berdoa agar di akhirat nanti 
ayah bisa bahagia utuk selamanya.

Ayah..
 terimakasih untuk semua yang telah kau berikan untuk ku
Terimakasih karena telah membimbingku kejalan yang benar
Terimakasih karena telah menyayangi ku melebihi dirimu sendiri

Banda Aceh, 27 Maret 2016


Minggu, 27 Maret 2016

SIAPA YANG SALAH ?





Di zaman sekarang semua telah berubah, bukan hanya Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) saja yang berubah, tetapi manusia dan akhlak pun ikut berubah seiring perubahan zaman. Terkadang saya berfikir kenapa zaman sekarang bukan  menjadi lebih baik tetapi malah semakin merosot. Coba anda perhatikan di sekitar anda, akhlak orang zaman sekarang tidak mencerminkan sifat anak-anak pada usianya yang kita ketahui masih lugu dan polos. Saya bahkan banyak melihat perubahan-perubahan pada anak-anak yang masih sekolah dasar (SD). Mereka seolah-olah orang dewasa yang sudah tahu akan semuanya. Bersikap kepada orang lain yang tidak semestinya. Berbicara kepada orang lain seakan dia adalah orang yang paling tua. Membantah perkataan orang yang telah melahirkan dan menafkahinya, memakinya bahkan bibir ini tidak mampu menuliskannya dengan kata-kata. Dan hal yang paling mengerikan anak-anak yang umurrnya masih cukup belia sudah melakukan sexs yang seharusnya di lakukan bagi mereka yang sudah menikah. Naudzubilahimindjolik.. 

Apakah hal itu masih di katakana wajar? Atau hanya biasa-biasa saja? Kalau sudah seperti ini, siapa yang harus di salahkan? Siapa yang harus bertanggung jawab? Apakah karena orang tua yang lalai karena kesibukannya? Apakah Karena guru tidak becus mendidiknya? Atau Masyarakat yang tidak peduli terhadap mereka? Atau jangan-jangan Karena pergaulannya yang begitu bebas? Atau bahkan karena IPTEK yang semakin canggih? Nah kalau sudah seperti ini siapa yang harus di persalahkan, berapa banyak anak-anak yang ada di luar sana yang sudah terjerumus kedalam jurang kenistaan. Bahkan setan-setan di luar sana tertawa terbahak-bahak menyaksikan ini semua. Apakah kamu masih bisa tertawa melihat anak-anak mu di tertawakan di luar sana?  

Terkadang saya menangis di balik tirai itu, menagis bukan karena saya lapar. Saya menangis bukan karena saya tidak punya uang, tetapi air mata ini mengalir karena sedih melihat adek-adek saya yang usianya masih muda, di mana masa-masa sekarang ini mereka masih bermain-main bersama malah di umur mereka yang cukup belia sudah terjerumus kejurang kenistaan. Astakfirullahhalazim.

Saya selalu bertanya-tanya. Apakah Negara ini tidak sedih melihat anak bangsanya yang satu-persatu jatuh dan mati begitu saja? Apakah Negara ini akan maju, jika jalan menuju kemajuannya saja sudah rusak dan hancur? Apakah cahaya yang dulunya ada, bisa bersinar kembali? Dan semua itu lebih mengerikan dari pada harus mati di dalam medan perang sekalipun.

Kita tahu, IPTEK memang semakin maju tetapi kemajuan itu malah meninggalkan begitu banyak jasad tanpa roh, menjadikan adek-adek saya seperti robot yang selalu mereka control. Apa gunanya ilmu pengetahuan dan teknologi canggih tetapi anak-anak bangsanya saja hancur. Apa gunanya pendidikan tinggi samapi S-3 atau S-10 sekalipun jika moral tidak ada itu semua tidak ada artinya.

Banyak orang berkata “Pendidikan adalah hal yang nomor 1”. Ya, pendidikan memang Nomor 1. Tetapi apakah orang tua sudah memberikan pendidikan yang layak kepada anaknya? Apakah orang tua telah bagus mendidik anaknya? Jangan hanya kata-kata yang keluar dari bibir, tetapi buktikanlah kalau kamu adalah orang tua yang bertanggung jawab. Buktikan kalau kamu adalah seorang guru yang professional.

Dan ketahuilah.. seorang anak yang baru lahir dia bagaikan kertas putih, fitrah atau suci. Tergantung bagaimana kita memprosesnya, tuliskanlah kata-kata yang indah dan bermakna di kertas itu. Mereka harus kita arahkan kejalan benar, jangan biarkan mereka tersesat di hutan yang gelap. Bimbing dan tuntunlah anak-anak itu agar tidak mengambil jalan yang salah. Sinari dia dengan dengan cahayamu agar dia tidak pernah merasa kegelapan. Berikan dia kasih sayah dan perhatian agar dia merasa di butuhkan. Jika hal itu telah dilakukan insyaallah mereka akan tahu dan dapat membedakan mana baik dan buruk, mana air dan mana api, dan tahu mana jalan ke surga dan neraka.

Sesibuk apapun anda sebagai orang tua, sisihkanlah waktu anda untuk mereka. Pantaulah apa yang mereka lakukan, ajari mereka ilmu dunia dan akhirat, ajarkan dia untuk mengenal dirinya. Kenalkan dia pada tuhan yang telah menciptakannya. Dan bentuklah keperibadiannya, agar dia menjadi manusia yang berakhlakul qorimah serta berguna bagi nusa dan bangsa.

Apalah artinya menjadi orang tua yang tidak mampu memberikan kasih saying kepada anaknya. Apalah artinya menjadi seorang guru jika tidak bisa mendidik murid-muridnya. Apalah artinya menjadi seorang pemimpin  jika tidak mampu mensejahterakan rakyatnya. Tetapi jadilah orang tua yang menjadi pahlawan terhadap anaknya, yang selalu menjaga serta melindunginya dari segala marabahaya. Jadilah seorang guru yang selalu bersinar dan menerangi murid-muridnya, membimbingnya serta mengajarkan mereka arti kehidupan yang sesunggunhnya. Dan jadilah seorang pemimpin yang bisa bertanggung jawab dan bisa mensejahterakan rakyatnya.
Ibarat suatu pohon, sekuat apapun angin yang ingin merobohkanya tetapi jika pohon itu sudah memiliki bekal yaitu akar yang kuat dan tangguh maka angin bahkan badai sekalipun tak akan sanggup untuk merobohkanya. 

@@@

Terimakasih.. semoga apa yang telah saya tuliskan ini bisa bermanfaat bagi kita semua. Maafkan jika kata-kata yang keluar dari bibir ini tak sesuai seperti yang di harapkan. Pesan saya, pekalah terhadap keadaan sekitar anda, tegurlah mereka jika mulai salah memilih jalan. Arahkan mereka kejalan yang menurut anda benar. Walau anak-anak itu bukan saudara atau keluarga anda, tetapi ingatlah kita semua masih memiliki keluarga yang sewaktu-waktu bisa seperti mereka yang terjerumus kejurang kenistaan. Jika anda sayang dengan keluarga anda, maka sayangilah anak-anak yang ada di sekitar anda. Insyaallah dengan cara begitu kita bisa membawa mereka kejalan yang diridhoi Allah SWT.

Banda Aceh, 28 Maret 2016

CARA MUDAH UNTUK MENGHAPUS DOSA





Perubahan zaman yang begitu pesat seakan membuat manusia terlena akan kesibukan duniawi semata, bahkan terkadang tidak memperdulikan kehidupan di sekelilingnya. maka tidak di ragukan lagi kalau ukhwah islamiah di zaman sekarang sudah begitu renggang.

 Mungkin kawan-kawan tidak asing lagi bukan dengan kata “UKHWAH ISLAMIAH”.
 Ukhwah Islamiah itu merupakanikatan hati dan jiwa yang terjalin dalam sesame umat islam. Nah..  jika kita memperkuat ukhwah islamiah sesama umat islam maka dosa kita akan berguguran seperti daun pohon yang berjatuhan ketanah bahkan melebihi kecepatanyna. Dan ingat Allah sangat menyukai orang-orang yang meminta maaf terlebih dahulu agar kesalahan yang di lakukannya di maafkan dengan cara berjabat tangan. Maksud berjabat tangan dalam artian disini hanya di perolehkan yang mahram saja tetapi yang bukan mahram tidak boleh ok. 

Jika kita sebagai manusia ingin mendapatkan cinta Allah SWT, maka kita harus memperkuat ukhwah islamiah kita dengan cara bersilaturahmi sesama umat islam seperti keluarga, saudara, teman-teman atau lain sebagainya. Maka jadikanlah silaturahmi salah satu agenda anda dalam tiap minggunya, karena kita sebagai manusia bukan hanya membutuhkan makan, minum atau materi lainnya tetapi di dalam tubuh kita terutama hati juga membutuhkan sesuatu yang dapat membuatnya kembali bergairah, tidak merasa keksongan atau kehausan akan cinta. Nah jiga kita melakukan silaturahmi maka hati kita tidak akan pernah merasa kosong atau hampa karena setiap minggunya selalu diisi dengan cinta yang begitu indah.

Dan kita juga harus tahu bahwa setiap keluarga, saudara, suami, anak,dan  teman belum tentu di katakana Ukhwah Islamiah. Kenapa? Karena pada dasarnya yang di maksud dengan ukhwah islamiah disini ialah orang yang akan membawa kita kejalan yang benar, orang yang selalu mengingatkan kita jika melakukan suatu kesalahan, orang yang membimbing kita kejalan yang lurus, dan membawa kita kesurga bukan malah sebaliknya. Maka dari itu, ajaklah saudara, keluarga, teman maupun suami untuk memperkuat Ukhwah islamiah agar dosa kita bisa berguguran. Bagi anda yang sudah membaca atau sudah tahu akan hal ini lebih baiknya mengajak keluarga atau teman untuk selalu di jalan yang benar, apalagi orang tua

Ukhwah Islamiah di sini ada beberapa tingkatan, yaitu:

1.      1. Ta’aruf

Ta’aruf yaitu saling mengenal. Manusia di ciptakan bukan hanya untuk hidup sendiri tetapi Allah menciptakan manusia agar saling mengenal satu sama lain. Seperti yang telah tercantum dalam kitab Allah.

QS. Al-Hujurat ayat 13

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

Artinya:
Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.

2.     Ta’aluf

Ta’aluf yaitu bersatu. Manusia diciptakan bukan hanya untuk saling mengenal atau ta’aruf tetapi kita juga harus bersatu, dan menjadi satu kesatuan. Kita sebagai manusia yang berakhlak muliah harus bisa mempertahankan kesatuan jangan sampai terpecah belah. Di mana sudah di jelaskan oleh Allah dalam kitab sucinya Al-quran yang tercantum di bawah ini

Allah Ta’ala berfirman,

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللهِ جَمِيعًا وَلاَ تَفَرَّقُوا وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنتُمْ أَعْدَآءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُم بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا

Artinya:
Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang  yang bersaudara. (QS Ali Imran:103)

Bukan hanya itu saja, bahkan masih banyak ayat al-quran yang menjelaskan agar manusia harus menjaga kesatuan dan tidak terpecah belah.

Al Hafidz Ibnu Katsir rahimahullah juga berkata,“Dia (Allah) memerintahkan mereka (umat Islam) untuk berjama’ah dan melarang perpecahan. Dan telah datang banyak hadits, yang (berisi) larangan perpecahan dan perintah persatuan. Mereka dijamin terjaga dari kesalahan manakala mereka bersepakat, sebagaimana tersebut banyak hadits tentang hal itu juga.

      3. Tafahum

Tafahum di mana kita harus saling memahami satu sama lain, saling memberi perhatian kepada orang lain dan peduli akan keadaan sekitar kita. Di dunia ini siapa sieh yang tidak ingin di perhatikan? Semua ingin di perhatikan dan ingin di pahami oleh orang lain. Namun jika kita lihat sekarang dari seribu manusia mungkin hanya beberapa yang memiliki sifat itu. Contoh kecilnya saja, jika teman kita lagi sedih atau murung kita bahkan tidak ingin tahu atau kita tidak peka dengan dia. Yang seharusnya kita sebagai teman harus bias memahami dia dan ada ketika dia membutuhkan seseorang untuk bersandar bukan malah pergi menjauh dan acuh kepadanya.

Maka dari itu mulai sekarang jadilah seorang yang peduli terhadap sekitanya, saling memahami dalam berteman, saling memahami dalam keluarga ataupun sebaliknya.


4. Ta’awun

Ta’awun itu sendiri berarti sesama umat islam kita harus saling membantu atau saling menolong dalam kebaikan. Jika kita bisa meringankan beban orang lain sedikit saja dan melihat senyum di bibir mereka alangkah bahagianya jika bisa melakukan perbuatan mulia tersebut.
Terkadang manusia jika sudah memiliki semuanya mereka lupa akan orang lain yang masih membutuhkan bantuan dan tolongan dari mereka. Tetapi yang kita lihat sekarang jika sudah kaya mereka bahkan lupa terhadap orang-orang pinggiran yang sangat kesusahan bahkan untuk makan saja belum tentu tiap harinya. Setidaknya bantulah mereka yang lagi membutuhkan, walaupun yang anda berikan sedikit mungkin bagi anda yang sedikit itu adalah hal yang paling besar bagi mereka yang hanya orang miskin. Jika manusia yang memiliki hati nurani walaupun dia adalah orang yang kaya dan terpandang tetapi dia tidak akan pernah lupa akan tanggung jawabnya untuk membantu orang yang sedang membutuhkan.  

      5. Tanasur

Tanasur dalam artian disini yaitu tolong menolong sama sama halnya dengan Ta’awun, namun Tanasur disni artiannya sudah lebih luas. Dan Tanasur merupakan tingkatan Ukhwah Islamiah yang paling tinggi. Kenpa demikian? Karena dalam menolong disini termasuk menolong dalam berperang bahkan rela mati demi membantu sesamanya. Contohnya saja pada jaman Rasulullah SAW para sahabat dan bela tentara lainnya demi mati di medan perang agar bisa memperjuangkan agama Allah SWT.


Semoga dari penjelasan saya tadi bisa bermanfaat bagi kita semua dan bisa membawa kita kejannahnya.. amin. Dan jadilah UKWAH ISLAMIAH YANG SEJATI.