Minggu, 27 Maret 2016

SIAPA YANG SALAH ?





Di zaman sekarang semua telah berubah, bukan hanya Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) saja yang berubah, tetapi manusia dan akhlak pun ikut berubah seiring perubahan zaman. Terkadang saya berfikir kenapa zaman sekarang bukan  menjadi lebih baik tetapi malah semakin merosot. Coba anda perhatikan di sekitar anda, akhlak orang zaman sekarang tidak mencerminkan sifat anak-anak pada usianya yang kita ketahui masih lugu dan polos. Saya bahkan banyak melihat perubahan-perubahan pada anak-anak yang masih sekolah dasar (SD). Mereka seolah-olah orang dewasa yang sudah tahu akan semuanya. Bersikap kepada orang lain yang tidak semestinya. Berbicara kepada orang lain seakan dia adalah orang yang paling tua. Membantah perkataan orang yang telah melahirkan dan menafkahinya, memakinya bahkan bibir ini tidak mampu menuliskannya dengan kata-kata. Dan hal yang paling mengerikan anak-anak yang umurrnya masih cukup belia sudah melakukan sexs yang seharusnya di lakukan bagi mereka yang sudah menikah. Naudzubilahimindjolik.. 

Apakah hal itu masih di katakana wajar? Atau hanya biasa-biasa saja? Kalau sudah seperti ini, siapa yang harus di salahkan? Siapa yang harus bertanggung jawab? Apakah karena orang tua yang lalai karena kesibukannya? Apakah Karena guru tidak becus mendidiknya? Atau Masyarakat yang tidak peduli terhadap mereka? Atau jangan-jangan Karena pergaulannya yang begitu bebas? Atau bahkan karena IPTEK yang semakin canggih? Nah kalau sudah seperti ini siapa yang harus di persalahkan, berapa banyak anak-anak yang ada di luar sana yang sudah terjerumus kedalam jurang kenistaan. Bahkan setan-setan di luar sana tertawa terbahak-bahak menyaksikan ini semua. Apakah kamu masih bisa tertawa melihat anak-anak mu di tertawakan di luar sana?  

Terkadang saya menangis di balik tirai itu, menagis bukan karena saya lapar. Saya menangis bukan karena saya tidak punya uang, tetapi air mata ini mengalir karena sedih melihat adek-adek saya yang usianya masih muda, di mana masa-masa sekarang ini mereka masih bermain-main bersama malah di umur mereka yang cukup belia sudah terjerumus kejurang kenistaan. Astakfirullahhalazim.

Saya selalu bertanya-tanya. Apakah Negara ini tidak sedih melihat anak bangsanya yang satu-persatu jatuh dan mati begitu saja? Apakah Negara ini akan maju, jika jalan menuju kemajuannya saja sudah rusak dan hancur? Apakah cahaya yang dulunya ada, bisa bersinar kembali? Dan semua itu lebih mengerikan dari pada harus mati di dalam medan perang sekalipun.

Kita tahu, IPTEK memang semakin maju tetapi kemajuan itu malah meninggalkan begitu banyak jasad tanpa roh, menjadikan adek-adek saya seperti robot yang selalu mereka control. Apa gunanya ilmu pengetahuan dan teknologi canggih tetapi anak-anak bangsanya saja hancur. Apa gunanya pendidikan tinggi samapi S-3 atau S-10 sekalipun jika moral tidak ada itu semua tidak ada artinya.

Banyak orang berkata “Pendidikan adalah hal yang nomor 1”. Ya, pendidikan memang Nomor 1. Tetapi apakah orang tua sudah memberikan pendidikan yang layak kepada anaknya? Apakah orang tua telah bagus mendidik anaknya? Jangan hanya kata-kata yang keluar dari bibir, tetapi buktikanlah kalau kamu adalah orang tua yang bertanggung jawab. Buktikan kalau kamu adalah seorang guru yang professional.

Dan ketahuilah.. seorang anak yang baru lahir dia bagaikan kertas putih, fitrah atau suci. Tergantung bagaimana kita memprosesnya, tuliskanlah kata-kata yang indah dan bermakna di kertas itu. Mereka harus kita arahkan kejalan benar, jangan biarkan mereka tersesat di hutan yang gelap. Bimbing dan tuntunlah anak-anak itu agar tidak mengambil jalan yang salah. Sinari dia dengan dengan cahayamu agar dia tidak pernah merasa kegelapan. Berikan dia kasih sayah dan perhatian agar dia merasa di butuhkan. Jika hal itu telah dilakukan insyaallah mereka akan tahu dan dapat membedakan mana baik dan buruk, mana air dan mana api, dan tahu mana jalan ke surga dan neraka.

Sesibuk apapun anda sebagai orang tua, sisihkanlah waktu anda untuk mereka. Pantaulah apa yang mereka lakukan, ajari mereka ilmu dunia dan akhirat, ajarkan dia untuk mengenal dirinya. Kenalkan dia pada tuhan yang telah menciptakannya. Dan bentuklah keperibadiannya, agar dia menjadi manusia yang berakhlakul qorimah serta berguna bagi nusa dan bangsa.

Apalah artinya menjadi orang tua yang tidak mampu memberikan kasih saying kepada anaknya. Apalah artinya menjadi seorang guru jika tidak bisa mendidik murid-muridnya. Apalah artinya menjadi seorang pemimpin  jika tidak mampu mensejahterakan rakyatnya. Tetapi jadilah orang tua yang menjadi pahlawan terhadap anaknya, yang selalu menjaga serta melindunginya dari segala marabahaya. Jadilah seorang guru yang selalu bersinar dan menerangi murid-muridnya, membimbingnya serta mengajarkan mereka arti kehidupan yang sesunggunhnya. Dan jadilah seorang pemimpin yang bisa bertanggung jawab dan bisa mensejahterakan rakyatnya.
Ibarat suatu pohon, sekuat apapun angin yang ingin merobohkanya tetapi jika pohon itu sudah memiliki bekal yaitu akar yang kuat dan tangguh maka angin bahkan badai sekalipun tak akan sanggup untuk merobohkanya. 

@@@

Terimakasih.. semoga apa yang telah saya tuliskan ini bisa bermanfaat bagi kita semua. Maafkan jika kata-kata yang keluar dari bibir ini tak sesuai seperti yang di harapkan. Pesan saya, pekalah terhadap keadaan sekitar anda, tegurlah mereka jika mulai salah memilih jalan. Arahkan mereka kejalan yang menurut anda benar. Walau anak-anak itu bukan saudara atau keluarga anda, tetapi ingatlah kita semua masih memiliki keluarga yang sewaktu-waktu bisa seperti mereka yang terjerumus kejurang kenistaan. Jika anda sayang dengan keluarga anda, maka sayangilah anak-anak yang ada di sekitar anda. Insyaallah dengan cara begitu kita bisa membawa mereka kejalan yang diridhoi Allah SWT.

Banda Aceh, 28 Maret 2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar