Di
zaman sekarang semua telah berubah, bukan hanya Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
(IPTEK) saja yang berubah, tetapi manusia dan akhlak pun ikut berubah seiring
perubahan zaman. Terkadang saya berfikir kenapa zaman sekarang bukan menjadi lebih baik tetapi malah semakin
merosot. Coba anda perhatikan di sekitar anda, akhlak orang zaman sekarang
tidak mencerminkan sifat anak-anak pada usianya yang kita ketahui masih lugu
dan polos. Saya bahkan banyak melihat perubahan-perubahan pada anak-anak yang
masih sekolah dasar (SD). Mereka seolah-olah orang dewasa yang sudah tahu akan
semuanya. Bersikap kepada orang lain yang tidak semestinya. Berbicara kepada
orang lain seakan dia adalah orang yang paling tua. Membantah perkataan orang
yang telah melahirkan dan menafkahinya, memakinya bahkan bibir ini tidak mampu
menuliskannya dengan kata-kata. Dan hal yang paling mengerikan anak-anak yang
umurrnya masih cukup belia sudah melakukan sexs yang seharusnya di lakukan bagi
mereka yang sudah menikah. Naudzubilahimindjolik..
Apakah
hal itu masih di katakana wajar? Atau hanya biasa-biasa saja? Kalau sudah
seperti ini, siapa yang harus di salahkan? Siapa yang harus bertanggung jawab?
Apakah karena orang tua yang lalai karena kesibukannya? Apakah Karena guru
tidak becus mendidiknya? Atau Masyarakat yang tidak peduli terhadap mereka? Atau
jangan-jangan Karena pergaulannya yang begitu bebas? Atau bahkan karena IPTEK
yang semakin canggih? Nah kalau sudah seperti ini siapa yang harus di persalahkan,
berapa banyak anak-anak yang ada di luar sana yang sudah terjerumus kedalam
jurang kenistaan. Bahkan setan-setan di luar sana tertawa terbahak-bahak
menyaksikan ini semua. Apakah kamu masih bisa tertawa melihat anak-anak mu di
tertawakan di luar sana?
Terkadang
saya menangis di balik tirai itu, menagis bukan karena saya lapar. Saya
menangis bukan karena saya tidak punya uang, tetapi air mata ini mengalir
karena sedih melihat adek-adek saya yang usianya masih muda, di mana masa-masa
sekarang ini mereka masih bermain-main bersama malah di umur mereka yang cukup
belia sudah terjerumus kejurang kenistaan. Astakfirullahhalazim.
Saya
selalu bertanya-tanya. Apakah Negara ini tidak sedih melihat anak bangsanya
yang satu-persatu jatuh dan mati begitu saja? Apakah Negara ini akan maju, jika
jalan menuju kemajuannya saja sudah rusak dan hancur? Apakah cahaya yang
dulunya ada, bisa bersinar kembali? Dan semua itu lebih mengerikan dari pada
harus mati di dalam medan perang sekalipun.
Kita
tahu, IPTEK memang semakin maju tetapi kemajuan itu malah meninggalkan begitu
banyak jasad tanpa roh, menjadikan adek-adek saya seperti robot yang selalu
mereka control. Apa gunanya ilmu pengetahuan dan teknologi canggih tetapi
anak-anak bangsanya saja hancur. Apa gunanya pendidikan tinggi samapi S-3 atau
S-10 sekalipun jika moral tidak ada itu semua tidak ada artinya.
Banyak
orang berkata “Pendidikan adalah hal yang nomor 1”. Ya, pendidikan memang Nomor
1. Tetapi apakah orang tua sudah memberikan pendidikan yang layak kepada anaknya?
Apakah orang tua telah bagus mendidik anaknya? Jangan hanya kata-kata yang
keluar dari bibir, tetapi buktikanlah kalau kamu adalah orang tua yang
bertanggung jawab. Buktikan kalau kamu adalah seorang guru yang professional.
Dan
ketahuilah.. seorang anak yang baru lahir dia bagaikan kertas putih, fitrah
atau suci. Tergantung bagaimana kita memprosesnya, tuliskanlah kata-kata yang
indah dan bermakna di kertas itu. Mereka harus kita arahkan kejalan benar,
jangan biarkan mereka tersesat di hutan yang gelap. Bimbing dan tuntunlah
anak-anak itu agar tidak mengambil jalan yang salah. Sinari dia dengan dengan
cahayamu agar dia tidak pernah merasa kegelapan. Berikan dia kasih sayah dan
perhatian agar dia merasa di butuhkan. Jika hal itu telah dilakukan insyaallah
mereka akan tahu dan dapat membedakan mana baik dan buruk, mana air dan mana
api, dan tahu mana jalan ke surga dan neraka.
Sesibuk
apapun anda sebagai orang tua, sisihkanlah waktu anda untuk mereka. Pantaulah
apa yang mereka lakukan, ajari mereka ilmu dunia dan akhirat, ajarkan dia untuk
mengenal dirinya. Kenalkan dia pada tuhan yang telah menciptakannya. Dan
bentuklah keperibadiannya, agar dia menjadi manusia yang berakhlakul qorimah
serta berguna bagi nusa dan bangsa.
Apalah
artinya menjadi orang tua yang tidak mampu memberikan kasih saying kepada
anaknya. Apalah artinya menjadi seorang guru jika tidak bisa mendidik
murid-muridnya. Apalah artinya menjadi seorang pemimpin jika tidak mampu mensejahterakan rakyatnya.
Tetapi jadilah orang tua yang menjadi pahlawan terhadap anaknya, yang selalu
menjaga serta melindunginya dari segala marabahaya. Jadilah seorang guru yang
selalu bersinar dan menerangi murid-muridnya, membimbingnya serta mengajarkan
mereka arti kehidupan yang sesunggunhnya. Dan jadilah seorang pemimpin yang
bisa bertanggung jawab dan bisa mensejahterakan rakyatnya.
Ibarat
suatu pohon, sekuat apapun angin yang ingin merobohkanya tetapi jika pohon itu
sudah memiliki bekal yaitu akar yang kuat dan tangguh maka angin bahkan badai
sekalipun tak akan sanggup untuk merobohkanya.
@@@
Terimakasih..
semoga apa yang telah saya tuliskan ini bisa bermanfaat bagi kita semua.
Maafkan jika kata-kata yang keluar dari bibir ini tak sesuai seperti yang di
harapkan. Pesan saya, pekalah terhadap keadaan sekitar anda, tegurlah mereka
jika mulai salah memilih jalan. Arahkan mereka kejalan yang menurut anda benar.
Walau anak-anak itu bukan saudara atau keluarga anda, tetapi ingatlah kita
semua masih memiliki keluarga yang sewaktu-waktu bisa seperti mereka yang
terjerumus kejurang kenistaan. Jika anda sayang dengan keluarga anda, maka
sayangilah anak-anak yang ada di sekitar anda. Insyaallah dengan cara begitu
kita bisa membawa mereka kejalan yang diridhoi Allah SWT.
Banda Aceh, 28 Maret 2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar