Kamis, 27 Juli 2017

Tanpa Mereka, Aku Tiada!


Aku adalah seorang putri dari pasangan suami istri yang hidup dalam berkecukupan. Terlahir dengan keadaan yang sangat memprihatinkan. Saat aku kecil, aku lahir dalam keadaan premature. Melihat berat tubuhku yang tidak mencukupi, kedua orangtuaku merasa sedih dan terluka. Hari-hari kulalui tanpa setes ASI. Dokter memponis diriku sulit untuk hidup. Orangtuaku mendengar kabar itu menjadi tak berdaya. Anak yang mereka nantikan kehadirannya tak dapat hidup bersama mereka.

Hari-hari tubuhku mulai menurun. Dokter pun mulai putus asa dengan keadaanku. Wajah kedua orangtuaku, begitu terluka dan kecewa. Hari-hari mereka selalu disisiku. Melihat wajah merah yang tertutup dalam tabung. Setes air mata mengalir dari wajah ibuku. Ia menangis,Ia ingin menggengam tangan mungilku. Ia ingin merengkuhku dalam pelukannya. Tapi, Apalah daya, ketika bayi kecil itu tak dapat merasakan hangatnya pelukan seorang ibu.

Ayah disebelah ibu, menatapku dengan mata berkaca-kaca. Sembilan bulan yang ia nantikan bersamaku, menjadi masa sulit untuk dilalui. Apalah dayaku, ketika kedua ibu dan ayahku menitihkan air mata kepadaku. Aku bayi mungil primatur, Cuma dapat diam menutup mata. Aku ingin mengatakan betapa aku ingin merasakan Asi. Betapa aku ingin berada dalam dekapan mereka. apalah dayaku, bayi mungil yang tak berdaya.

Ketika dokter datang, dia menyuruh ibuku pergi meninggalkanku. Inginku meminta lebih.. lebih lama berada bersama mereka. apalah dayaku, ketika dengan mata tertutup mereka pergi meninggalkanku. Aku tahu, rasa tak ingin pergi dariku ada dalam hati mereka. tapi, mau bagaimana lagi. Dokter berbaju putih itu memaksa mereka menjauhiku.

 Tiga puluh  hari telah kulalui dari kalimat ponis tentang kematianku. Dokter itu berkata, ternyata Tuhan masih menyayangiku. Tuhan menyayangiku dan memberikan kesempatan bersama kedua orangtuaku. Ternyata, Tuhan masih membiarkanku bernapas walau terasa sulit. Betapa aku bersyukur, bayi kecil primatur ini masih diberikan kesempatan untuk hidup.

Kini, suara lembut dari ibu yang telah melahirkanku mulai terdengar ditelingaku. Pelan-pelan, mata kecil yang telah lama tertutup, kini mulai terbuka. Mata yang telah lama terpejam, akhirnya dapat melihat kedua Ibu dan Ayah yang amat menyayangiku. Hal pertama yang kulihat adalah ibu dan ayah di sisiku. Dengan suara tangis cemprengku mengejutkan kedua orangtuaku. Aku menggeliat dan menangis dalam rengkuhan hangat ibuku. Bibir ibu menciumku dengan mata berkaca-kaca. Ibu menitihkan air mata bahagia melihat diriku, bayi kecil primatur.

Kini, aku mulai besar. Umurku hampir menginjak Empat tahun. Kata ibu aku begitu lincah, berlari kian kesana kemari. Seringkali kelincahanku membuat ibu kualahan. Terkadang ia mengehela napas berat. Tak mudah menjaga anak kecil seumuran denganku. Anak yang tidak pernah mengenal kata lelah. Berlari, berlompat, berteriak, meronta, menagis, mengambek, marah dan segala emosi tercipta padaku. Aku tak peduli dengan wajah ibu yang kelelahan, selagi aku tidak puas, aku tak ingin berhenti bermain. Selagi aku tak suka, aku tidak berhenti meronta. Jika aku menginginkan sesuatu, aku terus berteriak agar ibu dan ayahku memberikan apa yang kuinginkan.

Seringkali, ayah menatapku tersenyum. Wajah lelahnya sehabis pulang bekerja, tak membuatku kasihan. Aku terus memaksakan kehendakku membeli apa yang kuinginkan. Ayah yang sangat menyayangiku, dengan manja mengiyakan permintaanku.

Saat itu, sewaktu hujan turun lebat. Aku berdiri menunggu ayah pulang di pintu. Kemarin, ayah telah berjanji membelikanku mainan. Aku tersenyum ketika dari pandangan jauh ayah mulai mendekat. aku melihat ayah pulang berlari dengan baju basah menutupi tubuhnya. Mata kecilku, mengamati tubuh ayah. Ia terlihat lelah dan kedinginan. tapi aku tak perduli, aku terus memaksa diberikan mainanku. Ayah tersenyum kepadaku. Senyum yang tak dapat kumengerti. Mainan yang kuinginkan, ayah serahkan dengan plastic yang basah.

Aku amat bahagia. Akhirnya, mainan yang kuinginkan dapat kumiliki. Aku berlari, berlompat kian kemari. Sungguh aku teramat bahagia. Walau tak peduli dengan tubuh ayah yang basah kuyup. Pagi itu, aku menagis berteriak. Mainan yang ayah belikan padaku  menjadi rusak karena kecerobohanku. Mainan yang kuinginkan tak bertahan lama. Aku meronta kpada ibu dan ayah agar dibelikan mainan baru untukku. Ibu terlihat menghela nafas berat, aku tahu Ia ingin menagtakan uang kita belum cukup beli mainan. Tapi, apalah aku. anak kecil yang tidak mengerti hal seperti itu.

Sebelum mainan kudapatkan, aku terus berteriak. Meronta, marah-marah. Ayah yang saat itu kurang sehat, datang menghampiriku. Ia mengatakan akan memebelikan maian  baru buatku. Aku anak kecil yang masih kecil, menunjukkan rasa senang kepada ayah. Walau aku tidak mahu tahu dari mana ayah mendapatkannya.

Waktu terus berlalu, kini aku mulai meranjak remaja. Masa-masa diusiaku, sangat terlalu labil dengan perasaan. Aku sering ngambek, sering marah bahkan mering berteriak kepada ibu dan ayahku. Pernah sekali, saat aku ingin pergi ke sekolah. aku Cuma diberi uang jajan yang tidak sesuai dengan keinginanku. Aku marah-marah, berteriak untuk diberikan uang lebih dari itu. Ibu yang saat itu kurang sehat, dengan mata berkaca-kaca ia memelukku erat. aku anak remaja telah diselimuti amarah, semakin memberontak. Aku tidak ingin pergi ke sekolah. aku tidak ingin belajar. aku tidak ingin menjadi anak mereka.

Apalah dayaku, saat ibu memanggilku.. dengan rasa tanpa bersalah, aku pergi meninggalkan ia dengan air mata luka. Saat itu, aku pergi keluyuran, aku tidak ingin pulang. Aku lebih memilih tinggal di rumah sahabatku. Seharian ibu dan ayah mencari keberadaanku. Hingga senja mendera, akhirnya mereka menemukanku. Ayah dan ibuku ingin marah saat itu. tapi, mereka yang amat menyayangiku Cuma dapat menghela napas panjang terhadapku.

Hari itu, adalah hari perpisahan di sekolahku. Teman-temanku menyuruhku memakai baju seragam perpisahan kami. tapi aku tak punya uang, tiba di rumah, aku meminta uang tanpa berpikir dari mana ibu dan ayah mendapatkannya. Lagi dan lagi, ayah dan ibu yang amat menyayangiku, dengan senyum mengiyakan keinginanku. Aku tahu, saat itu kedua ibu dan bapakku sedang tidak memeliki uang. Tapi, aku yang sangat ingin membeli baju itu tak memikirkan mereka.

Seringkali, aku membantah perkataan mereka. kata “ah” tak dapat kuhitung lagi mengalun dari bibirku. aku selalu melawan, marah-marah tanpa sebab kepada kedua ibu dan ayahku. Saat itu, saat aku lulus sekolah menengah atas. aku meminta lebih yang tak dapat ibu dan ayahku mengabulkannya. Aku meminta agar ibu dan ayah menguliahkanku. Aku ingin kuliah seperti teman-temanku yang lainnya. aku sangat malu, jika aku tidak dapat seperti mereka yang pergi melanjutkan pendidikannya.

Ayah yang saat itu sakit parah, mencoba memintaku untuk menyembunyikan keinginan itu untuk sementara waktu. Ayah mengatakan, ia belum cukup punya uang akan hal itu. aku anak remaja yang tak tahu kata penolakan pun melemparkan kata-kata yang tak sepatutnya kuberikan buat mereka. aku tidak ingin mengerti dengan kondisi ekonomi keluargaku di bawah rata-rata. Aku terus meminta untuk dikuliahkan. Aku terus meminta agar keinginanku diwujudkan.  Hingga akhirnya, seminggu setalh kejadian itu, ibu datang menghampiriku dengan wajah tersenyum. Ibu membelai kepalaku seraya memberikanku uang untuk melanjutkan pendidikanku. Saat itu aku sangat bahagia, ternyata ibu dan ayah masih menyayangiku.

Tidak terasa, bumi terus berputar. Aku pun tidak kecil lagi. Kini aku hampir meranjak dewasa. Umurku tidak dikategorikan anak kecil atau remaja lagi. Dan tidak terpungkiri perubahan terlihat jelas di wajah kedua orangtuaku. Rambut ibu yang dulu hitam gelap, kini mulai ditumbuhi rambut putih. Dulu, kulit ibu yang kencang, kini muali keriput. Tak terpungkiri, ayah pun sama. Tubuh ayah kian kurus. Tangan dan kakinya mulai memutih termakan usia. Ayahku yang bekerja dalam rawa-rawa membuat kaki dan tangannya terkelupas.

Aku baru tahu, dan aku baru sadar. Diumurku yang meranjak dewasa ini, aku baru mengerti. Aku baru mengerti betapa amat mereka menyayangiku. Aku yang dulunya bayi kecil kini telah besar. Anak yang dijaga ketat oleh kedua orangtuaku. Pernah dulu, kejadian beberapa tahun silam. Saat itu ayah pernah marah, ia teramat marah ketika tahu aku pacaran. Tak pernah aku melihat dia semarah itu kepadaku. Aku yang tidak mengerti maksud amarah itu, berlari memeluk ibu berharap mendapat pembelaan padaku. Ibu diam mengacuhkanku.

Saat itu, aku merasa, kedua orangtuaku tidak sayang lagi padaku. Mereka tidak mencintaiku lagi. Mereka bahkan telah marah kepadaku. Aku yang dulunya anak remaja, pergi dengan hati yang kecewa dan air mata luka.

Bila kuingat hal itu, aku baru mengerti sekarang. Ternyata, ayah dan ibuku teramat sayang kepadaku. Ia takut jika aku terjerumus kedalam jalan itu. ia takut jika aku terluka nantinya. Kini aku mengerti, sikap overprotektif kedua ibu dan ayahku demi kebaikan diriku. ia menjagaku seperti mutiara dalam lautan. Ia takut jika kilau ku ternodai. Ia takut mawar merah sepertiku dipetik oleh orang lain. Aku baru mengerti, betapa mereka sayang terhadap diriku.

Kini, aku bersujud di bawah kaki mereka. aku bersimpuh memohon ampun atas segala kelakuanku selama ini. terlalu banyak luka dan kecewa yang kuciptakan. Terlalu banyak air mata terhadap diriku. aku minta maaf. Akankah diriku dapat diampunkan? Kini.. hanya satu keinginan terbesarku. Satu keinginan yang ingin kuwujudkan. Aku ingin membahagiakan kedua ayah dan ibuku di usia senjanya. Aku ingin memberikan seluruh hidupku bagi mereka. karena aku baru tahu, kedua pintu surga itu terletak bagi ibu dan ayahku. Aku terus berdoa, moga ibu dan ayah di sayang Allah.

Inilah kisahku, semoga kita dapat mengerti arti kasih sayang orangtua terhadap kita. Segala yang ia lakukan demi kebaikan dan kebahagiaan kita. Semoga, Allah senantiasa berada dalam ridho kedua orangtua kita. Insya Allah.  

----------
@027rrikaajaa

Tidak ada komentar:

Posting Komentar