Tatkala jarum jam terus berputar.
sepeda motor Scopy milikku pun terus melaju mengikuti arah jalan. berapa meter
telah kutempuh, tiba saatnya aku menepikan sepeda motorku. jalanan cukup ramai.
sepanjang jalan kendaraan umum membuat pemandangan tak sedap. Macet. itulah
kata yang dapat menggambarkan suasana siang ini. hari semakin siang, orang yang
aku tunggu tak kunjung datang. jenuh mulai menghampiriku. saat ingin beranjak,
Weni sahabatku mulai memperlihatkan batang hidungnya didepanku. "Lama
banget sih kamu? jenuh tahu." kesalku padanya. "Maaf Risa.. tadi
jalanan macet banget." Alasnya.
Aku bersama Weni mengeluarkan
lebtop yang selalu menemani hari-hari kami berdua. hobi para perempuan secantik
kami selalu menikmati jalanan macet di kota ini. perempuan langka menikmati
waktu siang di tengah semaraknya kota Indonesia dengan kata MACET! jari
jemariku mulai mengetikkan huruf-huruf di papan keyboard. pikiran mulai
menerawang menuliskan kalimat suasana siang ini. siang memancarkan sinar yang
amat menyengat namun tiada menghalangi minat kami berdua mengamati jalanan ini.
Ketika bola mataku
menelisik pengendara jalanan, sepasang bola mata balik menatapku. seketika pandangannya
menghipnotis diriku hingga meletup-letup. Waduh, wajah pria itu begitu
meneduhkan. Seru hatiku bahagia. Weni menyikut lenganku sembari kembali ke alam
sadar. “Kenapa? kesambek apa, Hm?” Weni melempariku dengan pertanyaan yang ngga
pentingnya. “Ngga tahu aja deh kamu, Wen.. jumpa pangeran ku tadi.” Jelasku memeles.
“Kebiasaan banget sih.. mata tuh dijaga. Bukan Muhrim jadi jangan ngeloyong
aja.” Cerocos Weni kepadaku.
Dasar! Weni selalu
tepat menghujamiku dengan kata-katanya itu loh. Bisa ngga sekali saja dia
membiarkan mataku menikmati wajah-wajah para lelaki itu. sayang jika dibiarkan begitu
saja, Bantinku. Puas menikmati jalanan macet, kami pun bergegas pergi
meninggalkan tempat itu. aku melajukan motor Scopyku di atas rata-rata. Kerudung
yang kukenakan melambai-lambai mengikuti kibasan angin. Kembali kutepikan
motorku di pinggir jalan. Ternyata Allah kembali mempertemukanku bersama pria
yang sempat menghipnotis diriku. Kami kembali bertemu di SPBU. Jodoh kali ya.
Seruku.
Mulutku bersenandung kecil membayangkan pria itu menjadi suamiku. Tampan
banget, hidung mancungnya menambah keseksian wajahnya. Batinku. Sadar dari
pikiranku, cepat-cepat bibirku berkomat-kamit. Astaghfirullah. Risa..
kendalikan pikiranmu. Dia bukan muhrimmu jadi jangan membayangkan yang
tidak-tidak. lontarku. Ketika mataku ingin kembali memandangnya, perasaan harap
untuk memilikinya pupus seketika.
seorang wanita menghampirinya dengan mesra. Sakit! ternyata dia telah
memiliki kekasih. Kesalku. Karena sebel, kubelokkan kembali motor Scopyku
sebelum sempat kumengisi bensin. Terlanjur sakit sebelum bertindak. Cerocosku.
Susah banget sih
mencari pria Jomblo. Semuanya memiliki status pacaran. Kapan ya status Jomblo
ini tertukar. Semenjak lahir sampai sekarang masih status jomblo yang
terpampang dijidadku. Tapi tidak apalah yang penting HAPPY. Terserah punya
pacar atau tidak. mungkin Allah telah memilihkanku seseoarang yang tepat
untukku. Senyumku bahagia.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar